RMKE Gelar Stock Split 1:5, Simak Jadwal dan Dampaknya bagi Investor
Baca dalam 60 detik
- PT RMK Energy Tbk (RMKE) melakukan pemecahan saham dengan rasio 1:5, menurunkan nilai nominal dari Rp100 menjadi Rp20 per saham.
- Aksi korporasi ini bertujuan meningkatkan likuiditas dan aksesibilitas saham, terutama bagi investor ritel di tengah penurunan harga tahun berjalan.
- Jadwal kritis: perdagangan saham lama berakhir 16 Juli, saham baru mulai diperdagangkan 17 Juli 2026.

PT RMK Energy Tbk (RMKE) resmi menggelar pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:5, setelah memperoleh restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Langkah ini membuat setiap satu saham lama berubah menjadi lima saham baru, sehingga nilai nominal saham anjlok dari Rp100 menjadi Rp20 per lembar.
Kebijakan ini lazim digunakan emiten untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham di bursa. Dengan harga yang lebih rendah per saham, investor ritel yang sebelumnya mungkin kesulitan membeli dalam jumlah ganjil dapat lebih mudah berpartisipasi. Bagi RMKE, langkah ini juga diharapkan dapat memperluas basis investor di tengah tekanan harga saham yang telah merosot 62,18% sepanjang tahun berjalan.
Manajemen RMKE dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa persetujuan pemegang saham mencakup perubahan Pasal 4 Anggaran Dasar Perseroan. Modal dasar tetap Rp1,4 triliun, namun kini terbagi atas 70 miliar saham dengan nilai nominal Rp20. Dari jumlah tersebut, sebanyak 31,25% atau 21,875 miliar saham telah ditempatkan dan disetor penuh, dengan nilai nominal total Rp437,5 miliar.
Jadwal pelaksanaan telah ditetapkan. Perdagangan saham dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan negosiasi berakhir pada 16 Juli 2026. Keesokan harinya, 17 Juli 2026, saham dengan nilai nominal baru mulai diperdagangkan. Adapun recording date bagi pemegang saham yang berhak memperoleh saham hasil stock split adalah 20 Juli 2026, dan distribusi saham baru akan dilakukan pada 21 Juli 2026. Perdagangan di pasar tunai ditiadakan pada 17-20 Juli 2026 dan kembali aktif dengan nominal baru pada 21 Juli 2026.
Bagi investor Indonesia, aksi korporasi ini menjadi sinyal bahwa manajemen berupaya menghidupkan kembali minat pasar terhadap saham RMKE yang tengah terpuruk. Meski pada perdagangan terakhir saham sempat naik 6,16% ke level 2.240, secara year-to-date penurunan masih sangat dalam. Stock split memang tidak mengubah fundamental perusahaan, namun dapat memicu aksi beli jangka pendek dari investor yang mengejar likuiditas.
Ke depan, efektivitas langkah ini akan sangat bergantung pada kinerja operasional RMKE di sektor batu bara. Pertanyaan yang mengemuka: akankah harga saham mampu bertahan di level yang lebih terjangkau, atau justru kembali tertekan oleh sentimen industri yang lesu? Investor disarankan mencermati perkembangan harga pasca-split dan laporan keuangan berikutnya.



