IPO di Tengah Ketidakpastian: Sektor Telekomunikasi dan Perbankan Jadi Incaran
Baca dalam 60 detik
- Yakin Bertumbuh Sekuritas optimistis pasar modal Indonesia tetap atraktif meski ketidakpastian global masih tinggi.
- Bank Indonesia diproyeksikan menaikkan suku bunga 25 bps untuk menahan volatilitas rupiah, memberikan sinyal positif bagi investor.
- Sektor infrastruktur telekomunikasi, perbankan, dan komoditas dinilai memiliki prospek cerah di tengah keterlambatan RI dalam adopsi AI.

Pasar modal Indonesia masih menyimpan daya tarik di tengah gejolak global, demikian keyakinan Direktur Utama Yakin Bertumbuh Sekuritas, Rangga Raharja. Dalam diskusi bersama CNBC Indonesia, ia menilai langkah Bank Indonesia (BI) yang agresif menjaga stabilitas rupiah melalui instrumen moneter dan kenaikan suku bunga menjadi fondasi kepercayaan investor. BI diperkirakan masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam waktu dekat, sebuah sinyal yang justru disambut positif oleh pelaku pasar.
Meski Indonesia tertinggal dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), Rangga melihat celah besar di sektor infrastruktur telekomunikasi. "Pasar yang besar menjadi daya tarik tersendiri, terutama untuk mendukung digitalisasi yang terus berjalan," ujarnya. Selain itu, sektor perbankan dan komoditas dinilai sudah memasuki fase murah sehingga layak dilirik kembali oleh investor yang mencari valuasi menarik.
Minat korporasi untuk menggalang dana melalui bursa saham dinilai masih cukup baik. Namun, investor kini lebih selektif dengan menekankan pada fundamental perusahaan. "IPO tetap diminati, tetapi pasar hanya akan merespon emiten dengan prospek bisnis yang jelas dan valuasi wajar," tegas Rangga. Ia menambahkan bahwa momentum ini justru menjadi kesempatan bagi perusahaan dengan fundamental kuat untuk meraih pendanaan dengan biaya lebih efisien.
Bagi investor Indonesia, situasi ini menghadirkan dilema antara kehati-hatian dan peluang. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan harga saham, tetapi di sisi lain stabilitas rupiah dan prospek sektor tertentu memberikan imbal hasil yang menarik. Analis menyarankan untuk fokus pada saham-saham dengan kinerja laba solid dan utang terkendali, terutama di sektor yang didukung kebijakan pemerintah seperti infrastruktur digital.
Ke depan, pergerakan pasar akan sangat bergantung pada konsistensi BI dalam menjaga stabilitas moneter serta realisasi belanja modal korporasi. Pertanyaan yang mengemuka: akankah investor asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia setelah suku bunga naik? Atau justru arus modal akan keluar mencari imbal hasil lebih tinggi di negara lain? Jawabannya akan menentukan arah bursa dalam beberapa bulan mendatang.



