KOSPI Anjlok 8%, Bursa Korsel Hentikan Perdagangan untuk Ketujuh Kalinya di 2026
Baca dalam 60 detik
- Indeks KOSPI ambles lebih dari 8% pada perdagangan intraday, memicu circuit breaker selama 20 menit.
- Aksi jual besar-besaran dipicu ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz serta kekhawatiran perlambatan sektor semikonduktor.
- Saham SK Hynix dan Samsung Electronics terpukul, dengan investor asing membukukan jual bersih hampir 1 triliun won.

Bursa Korea Selatan kembali mengalami guncangan hebat pada Senin (13/7/2026) saat indeks KOSPI merosot lebih dari 8% dalam perdagangan intraday, memicu penghentian sementara perdagangan untuk kali ketujuh sepanjang tahun ini.
Operator bursa Korea Exchange (KRX) mengaktifkan mekanisme circuit breaker selama 20 menit setelah indeks acuan jatuh di atas ambang batas 8% dari penutupan sebelumnya. Penurunan tersebut membawa KOSPI kembali ke bawah level psikologis 7.000, pertama kalinya dalam lebih dari dua bulan.
Tekanan jual terutama berasal dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global. Ketidakpastian geopolitik ini memicu aksi jual massal di seluruh pasar Asia, dengan Korea Selatan menjadi salah satu yang paling terpukul.
Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama. Samsung Electronics, yang sempat menguat di awal perdagangan, berbalik melemah 9,39% ke 258.250 won. Sementara itu, SK Hynix, produsen chip memori terbesar kedua di dunia, anjlok 13,44% ke 1,887 juta wonโkembali di bawah level 2 juta won untuk pertama kalinya dalam 11 bulan.
Investor asing dan institusi tercatat membukukan aksi jual bersih masing-masing sebesar 973 miliar won dan 316,5 miliar won pada saham SK Hynix. Ironisnya, perusahaan baru saja mencatatkan American Depositary Receipt (ADR) di Nasdaq pada 10 Juli dengan kode SKHY, yang pada hari pertama melonjak 13% di atas harga penawaran. Namun sentimen positif itu gagal menopang saham di pasar domestik.
Penurunan tajam SK Hynix juga menyeret produk investasi berbasis leverage. KODEX SK Hynix Single-Stock Leveraged turun 14,13% dan kini diperdagangkan di bawah harga pencatatannya, menunjukkan betapa rentannya instrumen derivatif terhadap volatilitas ekstrem.
Di luar faktor geopolitik, pelaku pasar mulai mengantisipasi hasil kinerja kuartal II-2026 SK Hynix. Korea Investment & Securities memperkirakan laba operasi perusahaan mencapai sekitar 60,4 triliun won, atau sekitar 8% di bawah ekspektasi pasar yang berada di kisaran 65 triliun won.
Menurut analis Korea Investment & Securities Chae Min-sook, tingginya porsi penjualan produk High Bandwidth Memory (HBM) membuat pertumbuhan rata-rata harga jual (ASP) SK Hynix lebih rendah dibanding rata-rata industri. Ke depan, nilai perusahaan akan lebih ditentukan oleh kemampuan mempertahankan profitabilitas tinggi di tengah tren kontrak pasokan memori jangka panjang, bukan semata-mata kenaikan ASP kuartalan.
Bagi investor Indonesia, gejolak di bursa Korea Selatan menjadi pengingat akan risiko rantai pasok semikonduktor global. Mengingat Indonesia masih bergantung pada impor chip untuk perangkat elektronik dan kendaraan listrik, gangguan produksi akibat ketegangan geopolitik atau perlambatan permintaan dapat berdampak pada harga dan ketersediaan produk di dalam negeri. Selain itu, investor yang memiliki eksposur ke reksa dana atau ETF berbasis saham teknologi Korea perlu mewaspadai potensi koreksi lebih lanjut jika konflik Selat Hormuz tak kunjung mereda.
Dengan circuit breaker yang telah aktif tujuh kali di 2026, pertanyaan besarnya adalah: seberapa dalam lagi KOSPI akan jatuh sebelum sentimen pasar berbalik? Jawabannya mungkin bergantung pada dinamika geopolitik dan laporan keuangan raksasa semikonduktor dalam pekan-pekan mendatang.



