Lewis Capaldi Menangis di Atas Panggung: 'Tak Tahu Bisa Tampil Lagi'
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Skotlandia Lewis Capaldi menangis saat mengaku sempat ragu bisa manggung lagi setelah diagnosis Tourette.
- Penampilan di BST Hyde Park menjadi momen emosional setelah insiden Glastonbury 2023 yang viral.
- Capaldi juga menghabiskan ยฃ2.000 untuk mentraktir penggemar Inggris di pub saat Piala Dunia.

Lewis Capaldi, pelantun hit "Someone You Loved", tak kuasa menahan air mata saat tampil di BST Hyde Park, London, Sabtu (11/7) malam. Di hadapan puluhan ribu penonton, ia mengaku sempat meragukan kemampuannya untuk kembali bernyanyi di panggung besar setelah didiagnosis sindrom Tourette.
Penyanyi berusia 29 tahun itu berhenti di tengah kalimat, berusaha menenangkan diri sebelum melanjutkan. "Berada di sini bersama kalian semua dan bisa..." ucapnya terbata-bata. "Aku tidak tahu apakah ini akan mungkin terjadi lagi, jadi berada di sini sangat spesial bagiku!"
Momen tersebut menjadi penanda penting dalam perjalanan karier Capaldi. Pada 2023, penampilannya di Glastonbury Festival sempat terganggu oleh tics tak sadar akibat Tourette, kondisi neurologis yang menyebabkan gerakan atau suara spontan. Ia kemudian memutuskan untuk rehat dari sorotan publik demi memulihkan diri.
Di atas panggung, Capaldi juga melontarkan candaan khasnya. Ia memohon penggemar untuk bertahan hingga akhir konser, mengingat pertandingan perempat final Piala Dunia antara Inggris dan Norwegia yang akan berlangsung. "Terima kasih sudah di sini! Meski aku tahu banyak dari kalian mungkin pergi saat pertandingan Inggris dimulai," katanya sambil tersenyum. "Aku orang Skotlandia, kalian kebanyakan orang Inggris. Bisakah kita hidup damai dan harmonis?"
Di luar panggung, Capaldi menunjukkan solidaritasnya kepada pendukung Inggris. Menurut sumber yang dikutip The Sun, ia menghabiskan hampir ยฃ2.000 untuk membeli minuman bagi semua pengunjung di pub Marlborough, Mayfair, setelah timnas Inggris mengalahkan Meksiko di Piala Dunia pekan lalu. Aksi itu dilakukan bersama penyanyi Rita Ora. "Saat peluit akhir berbunyi dan Inggris menang, Lewis membelikan minuman untuk setiap pengunjung. Staf bar diperintahkan untuk membebankan semua pesanan padanya. Tagihannya hampir ยฃ2.000. Itu adalah suguhan besar dan sikap yang sangat baik, terutama dari penggemar Skotlandia," ungkap sumber tersebut.
Kembalinya Capaldi ke panggung besar menjadi angin segar bagi industri musik global. Tourette syndrome, yang kerap disalahpahami sebagai gangguan psikologis, sebenarnya adalah kondisi neurologis yang dapat dikelola dengan terapi dan dukungan. Di Indonesia, kesadaran akan Tourette masih rendah, dan kisah Capaldi bisa menjadi edukasi bagi publik bahwa penyandangnya tetap bisa berkarya.
Setelah malam emosional di Hyde Park, pertanyaan besarnya adalah: akankah Capaldi kembali ke jalur tur dunia? Atau ia akan lebih selektif memilih panggung? Yang jelas, air matanya malam itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa ia berhasil melawan keraguan terbesarnya.



