GLP-1 Drugs Like Ozempic Show Promise in Preventing Lung Scarring After COVID-19, Study Finds
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Hong Kong menemukan bahwa obat GLP-1 dapat mengurangi jaringan parut paru pada tikus diabetes yang terinfeksi SARS-CoV-2.
- Obat ini diduga bekerja dengan menekan infiltrasi makrofag proinflamasi yang memicu fibrosis paru pasca-COVID.
- Temuan masih bersifat awal dan memerlukan uji klinis pada manusia sebelum dapat direkomendasikan untuk terapi long COVID.

Obat diabetes populer seperti Ozempic mungkin memiliki manfaat tambahan: melindungi paru-paru dari kerusakan jangka panjang akibat COVID-19. Sebuah studi dari Universitas Hong Kong yang diterbitkan di Journal of Virology mengungkap bahwa golongan obat GLP-1 receptor agonists mampu mengurangi pembentukan jaringan parut di paru pada tikus diabetes yang terinfeksi virus SARS-CoV-2, membuka harapan baru bagi pencegahan fibrosis paru pasca-COVID.
Pasien diabetes tipe 2 diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi pernapasan serius setelah terinfeksi COVID-19, termasuk long COVID dan pulmonary fibrosis โ kondisi penumpukan jaringan parut yang mengganggu fungsi paru. Tim peneliti yang dipimpin oleh Runhong Zhou, PhD, mencoba mengungkap mekanisme di balik kerentanan tersebut dan mencari cara untuk mengatasinya.
Dalam studi tersebut, para ilmuwan menganalisis data dari 90 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, 11 di antaranya menderita diabetes tipe 2. Mereka membandingkan aktivitas sel imun selama perawatan dan 2โ3 bulan setelahnya. Hasilnya, pasien diabetes menunjukkan peningkatan aktivitas monosit โ sel yang dapat berkembang menjadi makrofag โ hingga tiga bulan pasca-infeksi, serta kadar gen dan protein terkait peradangan dan fibrosis yang lebih tinggi.
Eksperimen pada tikus memperkuat temuan ini. Tikus diabetes yang terinfeksi SARS-CoV-2 mengalami infeksi lebih parah, penurunan berat badan lebih besar, dan beban virus lebih tinggi dibanding tikus non-diabetes. Mereka juga menunjukkan aktivitas gen fibrosis yang tidak ditemukan pada tikus sehat. Ketika makrofag โ sel imun yang memicu peradangan โ dikeluarkan dari tubuh tikus, kerusakan paru berkurang secara signifikan, menegaskan peran sentral sel tersebut dalam pembentukan jaringan parut.
Pada percobaan terakhir, tikus diabetes yang diobati dengan GLP-1 receptor agonists menunjukkan jaringan parut paru yang jauh lebih sedikit dibandingkan tikus yang tidak diobati. Menariknya, efek perlindungan ini terjadi bahkan tanpa perbaikan signifikan pada kadar gula darah. "GLP-1 drugs reduced lung scarring even when blood sugar levels weren't significantly improved, suggesting the drugs may directly reprogram the immune cells driving the damage," ujar Fady Youssef, MD, seorang spesialis paru dari MemorialCare Long Beach Medical Center yang tidak terlibat dalam penelitian.
Zhou menekankan bahwa temuan ini masih bersifat awal karena hanya melibatkan sejumlah kecil tikus. "Kami memerlukan studi pada hewan yang lebih besar dan akhirnya pada manusia untuk memastikan hasil ini," katanya. Gillian Goddard, MD, seorang endokrinolog dari Park Avenue Endocrinology and Nutrition, menyebut temuan ini "menarik" tetapi belum cukup untuk mengubah praktik klinis. "Kita butuh penelitian pada manusia sebelum bisa mengatakan GLP-1 bermanfaat untuk mengobati long COVID," ujarnya.
Bagi Indonesia, di mana prevalensi diabetes terus meningkat โ mencapai 10,9% pada 2023 menurut data Kemenkes โ temuan ini relevan. Banyak penyintas COVID-19 di tanah air melaporkan gejala sisa seperti sesak napas dan kelelahan. Jika uji klinis nanti membuktikan efektivitas GLP-1 pada manusia, obat ini bisa menjadi terapi tambahan untuk mencegah komplikasi paru jangka panjang pada pasien diabetes pasca-COVID. Namun, perlu diingat bahwa akses terhadap obat ini masih terbatas dan harganya relatif mahal di Indonesia.
Ke depan, para peneliti berencana melakukan studi lebih besar untuk mengonfirmasi mekanisme kerja GLP-1 dalam mereprogram respons imun. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah efek perlindungan ini bertahan lama, dan apakah obat serupa seperti metformin โ yang diketahui meningkatkan kadar GLP-1 alami โ juga memberikan manfaat serupa? Jawabannya akan menentukan apakah obat diabetes ini bisa menjadi senjata baru melawan dampak jangka panjang pandemi.



