Kanada Pilih Jerman untuk Kapal Selam Baru, Korea Selatan Tersingkir: Sinyal De-risking dari AS?
Baca dalam 60 detik
- Kanada resmi menunjuk Thyssenkrupp Marine Systems (TKMS) asal Jerman untuk membangun armada kapal selam miliaran dolar, mengalahkan tawaran Hanwha Ocean dari Korea Selatan.
- Keputusan ini mencerminkan tren negara-negara menengah menjalin kerja sama pertahanan alternatif di tengah ketidakpastian komitmen keamanan Amerika Serikat di era Trump.
- Kontrak ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengamati strategi diversifikasi alutsista dan potensi kerja sama dengan Jerman atau Korea Selatan di masa depan.

Kanada secara resmi memilih perusahaan pertahanan Jerman, Thyssenkrupp Marine Systems (TKMS), untuk membangun armada kapal selam baru senilai miliaran dolar AS, mengalahkan penawaran dari raksasa galangan kapal Korea Selatan, Hanwha Ocean. Keputusan yang diumumkan Perdana Menteri Mark Carney di Halifax, Senin (12/7/2026), ini tidak hanya bernilai strategis bagi keamanan Arktik Kanada, tetapi juga menjadi sinyal kuat pergeseran aliansi pertahanan global di tengah menurunnya kepercayaan terhadap Amerika Serikat.
Pemilihan TKMS terjadi di tengah kritik tajam Presiden AS Donald Trump terhadap NATO dan kebijakan "America First" yang dianggap menggerus solidaritas sekutu. Carney, yang akan menghadiri KTT NATO di Ankara, menegaskan bahwa paket Jerman menawarkan keunggulan teknologi dan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Kanada. "Kami memilih TKMS sebagai bagian dari komitmen mempertahankan Kanada dan mendukung sekutu," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kerja sama dengan Korea Selatan masih terbuka di bidang lain.
Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi Hanwha yang telah melakukan kampanye agresif, termasuk mengirimkan kapal selam KSS-III sejauh 14.000 km ke Vancouver pada Mei lalu. Namun, tawaran Jerman yang menghadirkan desain lambung berlian revolusioner untuk menghindari deteksi sonar, sistem propulsi sel bahan bakar tanpa suara, serta tiang optronik yang dapat dinaik-turunkan dalam hitungan detik, dinilai lebih unggul secara teknis. Selain itu, TKMS menjanjikan nilai ekonomi hingga C$160 miliar dan 650.000 pekerjaan-tahun, jauh di atas klaim Hanwha yang mencapai C$70 miliar dan 430.000 pekerjaan-tahun.
Konteks geopolitik yang lebih luas tidak bisa diabaikan. Ali Wyne, penasihat senior International Crisis Group, menilai bahwa meskipun Korea Selatan kecewa, keputusan ini belum tentu menandakan Kanada lebih mengutamakan Eropa ketimbang Asia. "Cerita yang lebih besar adalah semakin banyak negara, dengan Kanada sebagai salah satu yang paling vokal, berupaya melakukan de-risking dari AS dan China dengan memperkuat hubungan keamanan dan ekonomi di antara mereka sendiri," ujarnya. Tren ini diperkuat oleh kesepakatan dagang Kanada-China yang ditandatangani Carney, di mana Beijing dinilai lebih "prediktif" dibanding Washington.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Di tengah rivalitas kekuatan besar, negara-negara menengah seperti Kanada mulai membangun otonomi strategis dengan menjalin kemitraan pertahanan alternatif. Langkah serupa juga terlihat di Eropa, di mana Prancis dan India meningkatkan hubungan menjadi "Kemitraan Strategis Global Khusus" pada Februari lalu, mencakup kerja sama ilmu militer, mineral kritis, dan produksi pertahanan bersama. Indonesia, yang tengah memodernisasi alutsista, dapat memanfaatkan momen ini untuk menjajaki kerja sama dengan Jermanโyang kapal selam 212CD-nya dirancang sebagai standar NATOโatau dengan Korea Selatan yang memiliki jalur produksi aktif dan teknologi propulsi canggih.
Abishur Prakash, analis geopolitik dari The Geopolitical Business, memperingatkan bahwa keputusan Kanada bisa memicu reaksi balik dari Trump dan justru menguntungkan China seiring fragmentasi Barat. "Negara-negara seperti Kanada tidak sedang menggertak. Mereka benar-benar memikirkan pengaturan keamanan yang mengecualikan Amerika," katanya. Pertanyaannya kini: akankah Indonesia mengambil langkah serupa untuk mengurangi ketergantungan pada satu kekuatan besar, atau justru memperkuat aliansi tradisional di tengah ketidakpastian global?



