Mick Jagger Akui Hidup Terasing: 'Saya Bukan Orang Normal'
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Rolling Stones, Mick Jagger, mengakui bahwa ketenaran selama puluhan tahun membuatnya merasa 'terputus' dari kehidupan nyata.
- Pengakuan ini muncul setelah komedian John Mulaney menyebut Jagger tidak 'ramah' dalam special komedinya tahun 2019.
- Jagger mengaku berusaha melawan isolasi dengan melakukan hal-hal biasa, namun mengakui kondisi psikologisnya 'rusak permanen'.

Mick Jagger, vokalis Rolling Stones yang kini berusia 82 tahun, untuk pertama kalinya mengakui bahwa ketenaran yang ia raih selama lebih dari lima dekade telah membuatnya merasa terasing dari realitas. Pengakuan ini disampaikan dalam wawancara dengan The New York Times, menanggapi komentar komedian John Mulaney yang menyebutnya tidak 'ramah' saat bekerja sama di Saturday Night Live.
Dalam special komedi 'Kid Gorgeous' tahun 2019, Mulaney menceritakan pengalamannya mengajukan ide sketsa kepada Jagger. Ia mengatakan bahwa teman-temannya bertanya apakah Jagger ramah, dan jawabannya adalah tidak. Namun Mulaney menambahkan, mungkin Jagger memiliki versi keramahannya sendiri karena hidupnya sangat berbeda. "Dia bermain di stadion dengan 20.000 orang yang bersorak seperti dewa selama 50 tahun. Itu pasti mengubah seseorang," ujar Mulaney dalam special tersebut.
Menanggapi hal itu, Jagger mengaku belum menonton special Mulaney, tetapi ia tidak membantah pernyataan tersebut. "Jelas ini tidak normal. Ini tidak seperti kebanyakan kehidupan orang. Ini memengaruhimu. Kamu menjadi terputus dari orang lain," kata Jagger. Ia menambahkan bahwa banyak orang di industri hiburan hanya bergaul dengan sesama pelaku industri karena mereka memiliki kesamaan dan bisa saling memahami, sehingga mereka terputus dari apa yang disebut 'kehidupan nyata'.
Meskipun mengakui dampak negatif ketenaran, Jagger menegaskan bahwa ia secara sadar berusaha melawannya. "Ini usaha sadar. Sebenarnya cukup mudah. Kamu pergi jalan kaki sendirian di jalan, melakukan hal-hal normal, membeli The New York Times. Tapi itu hanya sementara karena secara psikologis, kondisi pikiranmu rusak permanen," jelasnya. Jagger juga menyebut bahwa usia 20-an akhir dan 30-an awal adalah masa sulit bagi pelaku industri hiburan karena ego yang besar diperlukan untuk bertahan.
Jagger juga membahas tentang persona panggungnya yang sangat berbeda dengan dirinya di luar panggung. "Apa yang kamu lakukan di atas panggung itu absurd. Tentu saja aku tidak seperti persona panggungku... itu versi yang sangat berlebihan dariku," katanya. Ia mencontohkan aktor metode yang tetap memerankan karakternya bahkan setelah syuting selesai, dan mempertanyakan karakter mana yang menjadi 'diri sejati' seseorang.
Bagi publik Indonesia, pengakuan Jagger ini relevan dengan fenomena selebritas lokal yang kerap mengalami tekanan mental akibat popularitas. Beberapa artis Tanah Air juga pernah mengungkapkan perasaan terisolasi meskipun dikelilingi banyak penggemar. Hal ini menunjukkan bahwa ketenaran, di mana pun, membawa konsekuensi psikologis yang serius.
Jagger mengakhiri pernyataannya dengan nada reflektif: "Ini adalah dikotomi dunia hiburan dan sesuatu yang harus kamu jalani, dan kamu selalu berharap bahwa di dalam dirimu, kamu adalah orang yang normal." Pertanyaannya, mampukah seorang bintang sebesar Mick Jagger benar-benar kembali menjadi 'normal' di tengah gemerlap panggung yang tak pernah padam?



