Van der Poel Kunci Kemenangan Ketiga di Tengah Terik 40 Derajat, Tour de France 2025 Kian Panas
Baca dalam 60 detik
- Mathieu van der Poel memenangi etape kesembilan Tour de France yang diperpendek akibat suhu ekstrem 40ยฐC, mengalahkan Tobias Johannessen dan Tom Pidcock.
- Etape dipotong 30 km setelah otoritas Prancis mengeluarkan 'peringatan merah' gelombang panas, memicu seruan perubahan jadwal start dari pebalap dan asosiasi.
- Pebalap seperti Luke Durbridge mendorong start lebih pagi, sementara Tadej Pogacar mengusulkan perubahan total kalender balap untuk menghindari bulan Juli-Agustus.

Mathieu van der Poel menambah koleksi kemenangan etapnya di Tour de France 2025 setelah finis terdepan pada etape kesembilan yang harus dipangkas akibat suhu mencapai 40 derajat Celsius. Pebalap Belanda berusia 31 tahun itu mengungguli Tobias Johannessen dari Denmark dan Tom Pidcock dari Inggris Raya dalam sprint kelompok terdepan di Ussel, Minggu (6/7).
Etape sepanjang sekitar 150 kilometer dari Malemort itu dipotong 30 kilometer lebih pendek dari rencana awal menyusul peringatan merah dari otoritas Prancis terkait gelombang panas ekstrem. Lebih dari sepertiga wilayah Prancis berada dalam level siaga tertinggi dari badan meteorologi nasional. Ini menjadi etape kedua dalam edisi 2025 yang terdampak cuaca, setelah etape ketiga di perbatasan Spanyol-Prancis harus diwarnai larangan penonton akibat kebakaran hutan.
Van der Poel, yang sebelumnya menang pada 2021 dan 2025, mengaku hari itu sangat berat meski kondisi panas lebih baik dibanding hari-hari awal. "Saya kesulitan memulihkan tenaga, bahkan dari etape yang lebih mudah. Beberapa hari terakhir saya mulai merasa lebih baik, dan hari ini akhirnya punya tenaga untuk bersaing," ujarnya kepada TNT Sports.
Kemenangan ini tak lepas dari kendala teknis yang dialami Pidcock sekitar 25 kilometer sebelum finis. Pebalap asal Inggris itu kehilangan kemampuan mengganti gigi sehingga tak bisa mengimbangi akselerasi Van der Poel. "Shifter saya berhenti berfungsi. Sepeda saya sempurna sepanjang balapan, tapi hari ini saat kemenangan di depan mata, malah rusak. Bagaimanapun, Mathieu sulit dikalahkan dalam sprint seperti ini," kata Pidcock.
Gelombang panas yang melanda Eropa selatan memicu perdebatan baru tentang keselamatan atlet. Asosiasi Pebalap Profesional (CPA) mendesak penyelenggara untuk mengubah jam start guna melindungi kesehatan pebalap di tengah meningkatnya frekuensi gelombang panas ekstrem. Pebalap Australia Luke Durbridge, yang mengikuti Tour ke-12 kalinya, menyebut kondisi "sangat panas gila-gilaan" dan mengapresiasi pemotongan etape. "Ke depan, jika pemanasan global terus begini, kita harus mulai mengubah jam start," katanya kepada AFP.
Namun, pemimpin klasemen Tadej Pogacar punya pandangan lebih radikal. Menurutnya, menggeser jam start tak akan cukup. "Ini topik besar untuk didiskusikan. Jika saya punya kuasa mengubah semuanya, saya akan mengubah seluruh kalender dan tidak balapan di Juli-Agustus di tempat panas, serta membuat kalender yang benar-benar berbeda," ujar pebalap Slovenia itu.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim terhadap olahraga. Dengan suhu tropis yang kerap melampaui 35ยฐC, penyelenggara event olahraga di tanah air perlu mulai mempertimbangkan penyesuaian jadwal dan protokol kesehatan atlet. Belum ada regulasi khusus di Indonesia yang mengatur penundaan atau pemendekan kompetisi akibat suhu ekstrem, berbeda dengan Prancis yang memiliki sistem peringatan merah.
Memasuki hari istirahat pertama, Pogacar masih kokoh di puncak klasemen dengan keunggulan 2 menit 42 detik atas Jonas Vingegaard. Namun, pertanyaan besar menggantung: akankah Tour de France mampu beradaptasi dengan iklim yang kian tidak bersahabat, atau justru harus merombak total tradisi balap musim panasnya?



