Kebangkitan Mladenovic: Juara Ganda Wimbledon Usai Cedera Parah
Baca dalam 60 detik
- Pasangan Guo Hanyu dan Kristina Mladenovic mengalahkan unggulan kedua untuk merebut gelar ganda putri Wimbledon 2025.
- Mladenovic bangkit dari cedera panjang yang membuatnya menggunakan kruk tahun lalu, kini meraih trofi Grand Slam ketujuh.
- Kemenangan ini menjadi bukti ketangguhan mental dan kerja sama lintas negara di tengah dominasi ganda internasional.

Kristina Mladenovic dan Guo Hanyu menaklukkan unggulan kedua Gabriela Dabrowski/Luisa Stefani dengan skor 6-3, 7-5 di final ganda putri Wimbledon, Minggu (12/7). Gelar ini menjadi yang pertama bagi pasangan China-Prancis tersebut sekaligus menandai kebangkitan spektakuler Mladenovic setelah cedera panjang yang nyaris mengakhiri kariernya.
Mladenovic, 34 tahun, sebelumnya telah mengoleksi enam gelar Grand Slam ganda antara 2018 dan 2022. Namun, cedera serius tahun lalu memaksanya berjalan dengan kruk dan membuat peringkatnya anjlok. Tanpa ragu, Guo yang saat itu mencari pasangan baru memilih Mladenovic sebagai rekan setimnya. Keputusan itu terbukti brilian ketika keduanya sukses menjuarai turnamen paling bergengsi di dunia tenis.
Pertandingan final berlangsung sengit. Unggulan kesepuluh itu langsung tancap gas dengan membaca lob-lob awal Dabrowski dan memimpin 5-0 di set pertama. Pasangan Kanada-Brasil itu sempat bangkit dengan merebut tiga game beruntun, tetapi keunggulan awal terlalu besar untuk dikejar. Di set kedua, Dabrowski/Stefani tampil lebih agresif dan beberapa kali mengancam servis lawan. Namun, forehand keras Mladenovic dan backhand akurat Guo dari net menjadi kunci kemenangan. Break point kritis terjadi di game ke-11, dimenangkan Guo lewat backhand silang yang tajam. Saat servis untuk gelar juara, Mladenovic tampil klinis dan memaksa lawan mengembalikan bola ke net.
Bagi Mladenovic, kemenangan ini terasa seperti mimpi. "Saya benar-benar tidak percaya ini terjadi sekarang. Tahun lalu saya masih di atas kruk, dan sekarang memegang trofi Wimbledon," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Guo yang tidak ragu memilihnya sebagai pasangan meski peringkatnya jatuh. "Dia tidak ragu sama sekali. Saya sangat bangga berdiri di sini bersamanya," tambah petenis Prancis itu.
Guo, yang tampil emosional, mengaku sangat beruntung memiliki Mladenovic di sisinya. "Terima kasih telah memilih saya dan mempercayai saya. Trofi ini adalah milik kita bersama," katanya. Kemenangan ini juga menjadi bukti bahwa kerja sama lintas negara dapat menghasilkan prestasi gemilang di tengah dominasi ganda putri yang biasanya dikuasai oleh pasangan dari negara yang sama.
Bagi Indonesia, keberhasilan Guo-Mladenovic bisa menjadi inspirasi bagi petenis ganda Tanah Air yang kerap kesulitan menembus papan atas. Tenis ganda Indonesia, seperti pasangan Christopher Rungkat/Aldila Sutjiadi, masih berjuang untuk konsisten di level Grand Slam. Dominasi ganda putri yang semakin terbuka—dengan kemenangan pasangan non-unggulan di Wimbledon—menunjukkan bahwa peluang selalu ada bagi mereka yang mau bekerja keras dan membangun sinergi.
Ke depan, tantangan bagi Mladenovic dan Guo adalah mempertahankan konsistensi. Bisakah mereka mengulang sukses ini di US Open September mendatang? Atau akankah persaingan ganda putri semakin sengit dengan munculnya pasangan-pasangan baru? Yang jelas, kebangkitan Mladenovic telah menambah warna baru di peta tenis dunia.



