Scaloni: Mentalitas Menderita adalah DNA Argentina
Baca dalam 60 detik
- Argentina menang 3-1 atas Swiss di perpanjangan waktu pada perempat final Piala Dunia 2026, memperpanjang tradisi lolos ke semifinal dalam enam turnamen besar beruntun.
- Pelatih Lionel Scaloni menyebut kemampuan timnya bertahan di situasi sulit sebagai ciri khas skuad, yang dipupuk sejak gelar juara Piala Dunia 2022.
- Kedalaman skuad dan pengalaman dari Qatar menjadi faktor kunci di balik kebangkitan Argentina saat tertinggal atau ditekan lawan.

Argentina kembali menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang tidak pernah menyerah, kali ini dengan kemenangan dramatis 3-1 atas Swiss di perempat final Piala Dunia 2026, Sabtu malam di Kansas City. Gol Julian Alvarez dan Lautaro Martinez di menit-menit akhir perpanjangan waktu memastikan langkah La Albiceleste ke semifinal untuk keenam kalinya secara beruntun di turnamen besar.
Pelatih Lionel Scaloni menegaskan bahwa kemampuan bertahan dalam tekanan sudah menjadi identitas timnya. "Kami tahu akan menderita, dan itu sudah ada dalam darah, dalam DNA kami. Justru itu memberi ketenangan," ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan. Menurut Scaloni, pengalaman juara Piala Dunia 2022 di Qatar telah membentuk mentalitas tangguh para pemainnya.
Jalan Argentina menuju semifinal tidak mulus. Sebelumnya, mereka harus bangkit dari ketertinggalan 0-2 melawan Mesir di babak 16 besar, dan sebelumnya juga nyaris kalah dari Cape Verde. Namun, Scaloni menilai bahwa situasi sulit justru menjadi lahan subur bagi timnya untuk tumbuh. "Di Qatar kami belum berpengalaman, dan situasi seperti itu terasa berat. Sekarang kami lebih tenang, tidak pernah menyerah," katanya.
Swiss sempat menyamakan kedudukan pada menit ke-67 dan tampil sangat disiplin, membuat Argentina kesulitan membangun serangan. Scaloni mengakui lawan sangat kuat dalam duel satu lawan satu. "Sulit memenangkan duel, sulit merangkai lebih dari lima atau enam operan. Mereka membuat kami menderita," ungkapnya. Namun, kedalaman bangku cadangan menjadi pembeda. Pemain seperti Alvarez dan Martinez yang masuk dari bangku cadangan mampu mengubah jalannya pertandingan.
Scaloni juga menyoroti peningkatan permainan bola mati timnya setelah Alexis Mac Allister mencetak gol pembuka dari tendangan sudut Lionel Messi. "Alexis adalah salah satu yang terbaik. Semua pujian untuknya karena kerja kerasnya," puji Scaloni. Gol tersebut menjadi bukti bahwa Argentina tidak hanya mengandalkan permainan terbuka, tetapi juga efektif dalam situasi set-piece.
Bagi Indonesia, perjalanan Argentina ini memberikan pelajaran tentang pentingnya mentalitas pantang menyerah dan kedalaman skuad. Timnas Indonesia, yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2034, bisa mengambil inspirasi dari cara Argentina mengelola tekanan di turnamen besar. Scaloni sendiri menekankan bahwa kunci keberhasilan adalah kepercayaan terhadap proses dan kebersamaan tim. "Kami adalah tim kolektif. Kami bersama, sangat bersatu. Ini bukti bahwa sepak bola itu rumit," tutupnya.
Jika Argentina akhirnya mengangkat trofi lagi, kampanye ini mungkin akan dikenang bukan karena permainan indah, melainkan karena kegigihan yang luar biasa. Scaloni dengan tegas menyatakan, "Saat Anda mencapai semifinal, Anda harus menderita. Anda harus melaluinya." Pertanyaan besarnya: mampukah Argentina mempertahankan mentalitas ini hingga partai puncak?



