Bazball Berakhir: McCullum Dipecat sebagai Pelatih Tes Inggris
Baca dalam 60 detik
- Brendon McCullum resmi dipecat dari jabatan pelatih tim Tes Inggris setelah serangkaian hasil buruk dan insiden di luar lapangan.
- Pemecatan ini mengakhiri era Bazball yang sempat membangkitkan tim, namun runtuh akibat kekalahan telak di Ashes dan masalah disiplin pemain.
- Inggris kini tanpa pelatih dan kapten menjelang seri melawan Pakistan, dengan Andy Flower disebut sebagai kandidat utama pengganti.

Brendon McCullum resmi dipecat sebagai pelatih tim Tes Inggris, menandai berakhirnya era Bazball yang sempat menggebrak dunia kriket. Keputusan ini diambil dua pekan setelah Ben Stokes mengumumkan pensiun dari kriket internasional dan melepas ban kapten, meninggalkan tim nasional tanpa nahkoda di kedua pos kunci tersebut.
Direktur kriket Rob Key tetap bertahan, namun otoritas England and Wales Cricket Board (ECB) memutuskan untuk memisahkan McCullum dari tim Tes setelah evaluasi mendalam. "Saya sangat menikmati melatih tim Tes dan bangga dengan pencapaian kami. Ada momen manis dan pahit, tapi saya menghormati keputusan ini," ujar McCullum dalam pernyataan resmi. Ia akan fokus menangani tim white-ball, yang baru saja menjuarai seri T20 melawan India dan menduduki peringkat satu dunia.
Kepergian McCullum tak lepas dari rentetan hasil buruk: tujuh kekalahan dalam sembilan Tes terakhir, termasuk kehancuran 4-1 di Ashes Australia. Kekalahan kandang dari Selandia Baruโyang pertama dalam 14 tahunโsemakin memperparah situasi, apalagi dibayangi insiden klub malam yang melibatkan Stokes dan Gus Atkinson. Kekalahan demi kekalahan ini membuat Inggris kehilangan 19 dari 38 Tes sejak masa kejayaan awal Bazball, ketika mereka memenangi 10 dari 11 laga pertama.
Kekacauan ini berawal dari kegagalan perencanaan tur Ashes 2025-26. Inggris hanya memainkan satu pemanasan, lalu unggul 105 run di Tes pertama Perth sebelum kolaps dalam sehari. Tuduhan budaya minum keras dan insiden Ben Duckett yang mabuk di Noosa memperburuk citra tim. Meski sempat menang di Melbourne, performa secara keseluruhan dinilai buruk. Upaya perbaikan seperti menambah staf pendukung dan pemberlakuan jam malam tak mampu menghentikan rangkaian skandal, termasuk pemukulan terhadap Harry Brook oleh bouncer klub malam di Wellington.
Bagi penggemar kriket Indonesia, pergolakan di tubuh Inggris menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keseimbangan antara inovasi taktik dan disiplin tim. Era Bazball yang mengedepankan agresivitas memang spektakuler, namun kegagalan dalam mempersiapkan tur dan menjaga perilaku pemain menunjukkan bahwa pendekatan semata-mata ofensif tidak cukup. ECB kini harus mencari pelatih yang bisa mengelola ego besar McCullum dan membangun kembali fondasi tim.
Kandidat pengganti mulai bermunculan. Andy Flower, pelatih asal Zimbabwe yang membawa Inggris juara Ashes 2010-11, disebut sebagai pilihan utama meski ia kini berkarier di liga franchise. Nama lain termasuk Richard Dawson (Glamorgan), Gareth Batty (Surrey), dan Andrew Flintoff yang menangani Inggris Lions. Mantan pelatih Australia Darren Lehmann juga masuk bursa setelah sukses di Northants. Siapapun yang terpilih, ia harus bisa bekerja sama dengan McCullum yang tetap menjadi pelatih white-ball hingga Piala Dunia 50-over tahun depan.
Pertanyaan besarnya: mampukah Inggris bangkit dari keterpurukan ini, atau justru akan semakin terpuruk dalam persaingan global? Dengan jadwal padat dan tanpa kapten tetap, masa depan tim Tes Inggris masih diselimuti ketidakpastian.



