Bazball Berakhir: Era Berani Timnas Inggris Tumbang di Tangan McCullum dan Stokes
Baca dalam 60 detik
- Kapten Ben Stokes pensiun dan pelatih Brendon McCullum dipecat setelah tujuh kekalahan dalam sembilan laga, menandai berakhirnya era Bazball yang kontroversial.
- Gaya agresif Bazball sempat membawa Inggris meraih kemenangan spektakuler, seperti mengejar 299 di Trent Bridge dan menaklukkan Pakistan di Rawalpindi, namun juga menuai kritik karena kerap kalah dalam momen krusial.
- Warisan Bazball meninggalkan pertanyaan besar tentang keseimbangan antara keberanian dan kehati-hatian dalam kriket modern, terutama bagi tim yang ingin mengadopsi pendekatan serupa.

Era Bazball di kriket Inggris resmi berakhir setelah kapten Ben Stokes mengumumkan pensiun pada awal Juli menyusul kekalahan seri dari Selandia Baru, dan pelatih kepala Brendon McCullum dipecat pada Minggu lalu setelah tujuh kekalahan dalam sembilan pertandingan. Gaya bermain agresif yang memecah belah penggemar dan pengamat ini meninggalkan jejak kenangan manis sekaligus pahit.
Di bawah kepemimpinan McCullum dan Stokes, Inggris mengalami transformasi drastis. Dari tim yang hanya memenangkan satu dari 17 pertandingan sebelumnya, mereka tiba-tiba menjadi mesin kemenangan dengan pendekatan menyerang tanpa kompromi. Kemenangan dramatis atas Selandia Baru di Trent Bridge pada 2022 menjadi momen ikonik: mengejar 299 run dalam 72 over, Jonny Bairstow mencetak 136 dari 92 bola dengan 14 four dan tujuh six, membawa Inggris menang dengan 22 over tersisa.
Puncak kejayaan lainnya terjadi di Pakistan, ketika Inggris untuk pertama kalinya dalam 17 tahun bermain di Rawalpindi dan meraih kemenangan dramatis di hari kelima. Mereka mencetak rekor 506-4 pada hari pertama, dan total 921 run dalam dua inning dengan rate 6,73 per over. Kemenangan ini diikuti dengan sapu bersih 3-0 atas Pakistan, membuat Bazball tampak tak terhentikan.
Namun, kegagalan di momen-momen krusial mulai menggerogoti reputasi Bazball. Di Ashes 2023, deklarasi kontroversial Stokes pada hari pertama di Edgbastonโsaat Joe Root berada di 118โmemicu kekalahan tipis dua wicket. "Saya pikir itu saat yang tepat untuk menyerang," kata Stokes saat itu. Namun, keputusan itu dianggap terlalu berani dan menjadi titik balik. Inggris akhirnya kalah 2-1 di seri tersebut, dengan hujan menyelamatkan Australia di Old Trafford.
Kekalahan telak di Australia pada akhir 2025 menjadi pukulan terakhir. Meskipun Australia tanpa Pat Cummins di dua pertandingan pertama dan Josh Hazlewood sepanjang seri, Inggris tetap kalah di Perth, Brisbane, dan Adelaide. Kemenangan di Melbourne menjadi penghiburan kecil, tetapi kekalahan 2-1 dari Selandia Baru di musim panas 2026 menjadi pemicu pemecatan McCullum.
Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan kriket domestik, kisah Bazball memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya keseimbangan antara agresivitas dan kehati-hatian. Federasi Kriket Indonesia (FKI) dapat mempelajari bagaimana pendekatan berani bisa mendatangkan kemenangan spektakuler, tetapi juga risiko besar jika tidak diimbangi dengan strategi yang matang. Di level internasional, era baru Inggris tanpa Stokes dan McCullum akan menjadi ujian apakah tim bisa kembali ke jalur konsisten atau justru kehilangan identitas.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah Inggris bangkit dari keterpurukan, atau justru gaya bermain agresif seperti Bazball akan ditinggalkan selamanya? Jawabannya akan menentukan arah kriket Inggris dalam beberapa tahun ke depan.



