Toronto Berduka: Penembakan di Festival Salsa Tewaskan Dua Orang, Pelaku Buron
Baca dalam 60 detik
- Dua orang tewas dan empat lainnya luka-luka dalam penembakan di festival salsa Toronto, pelaku masih dalam pengejaran.
- Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan senjata di Kanada, terjadi tak lama setelah penembakan di Montreal dan sekolah di Tumbler Ridge.
- Pemerintah Ontario berjanji memperketat regulasi senjata, namun pengamat menilai perubahan kebijakan masih terganjal lobi industri.

Penembakan massal kembali mengguncang Kanada. Dua orang tewas dan sedikitnya empat lainnya terluka dalam aksi brutal di sebuah festival salsa di Toronto pada Sabtu (11/7) malam waktu setempat. Pelaku hingga kini masih buron dan polisi terus melakukan pengejaran intensif.
Kepolisian Toronto mengonfirmasi bahwa enam korban ditemukan di lokasi dengan luka tembak. Dua di antaranya dinyatakan meninggal di tempat. Belum ada informasi lebih lanjut mengenai kondisi para korban luka. "Sejumlah besar personel polisi masih berada di area tersebut untuk melanjutkan penyelidikan," demikian pernyataan resmi otoritas melalui akun media sosial X.
Peristiwa nahas ini terjadi di Jalan St Clair Avenue, lokasi digelarnya Salsa on St Clair Festival. Seorang jurnalis AFP yang berada di tempat kejadian melaporkan suasana mencekam usai rentetan tembakan. Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, menyatakan duka mendalam melalui unggahan di media sosial. "Saya hancur oleh kekerasan tak berarti di Festival Salsa on St Clair yang merenggut dua nyawa dan melukai lainnya," tulis Ford.
Penembakan di Toronto ini menjadi rangkaian terbaru dari aksi kekerasan bersenjata di Kanada. Akhir bulan lalu, Montreal diguncang penembakan yang menewaskan dua orang, termasuk seorang polisi, sebelum pelaku ditembak mati aparat. Sebelumnya pada Februari, sebuah penembakan di sekolah di kota kecil pertambangan Tumbler Ridge, British Columbia, menewaskan delapan orangโtermasuk ibu dan saudara tiri pelakuโserta melukai 27 lainnya. Pelaku kemudian bunuh diri.
Bagi Indonesia, rangkaian peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengendalian senjata api. Meski Kanada memiliki regulasi kepemilikan senjata yang lebih ketat dibanding Amerika Serikat, kasus-kasus ini menunjukkan celah masih ada. Pengamat keamanan menilai bahwa akses ilegal terhadap senjata dan lemahnya pengawasan di titik-titik perbatasan menjadi faktor utama. Di Indonesia, meski kepemilikan senjata api sangat dibatasi, penyelundupan senjata ilegal tetap menjadi ancaman, terutama di daerah konflik seperti Papua.
"Kekerasan bersenjata di Kanada menunjukkan bahwa regulasi ketat saja tidak cukup tanpa penegakan hukum yang konsisten dan pengawasan perbatasan yang ketat," ujar seorang analis keamanan dari Universitas Indonesia yang enggan disebut namanya.
Pemerintah Ontario berjanji akan memperketat aturan kepemilikan senjata, namun langkah konkret masih dinanti. Pertanyaan besarnya: akankah tragedi berulang ini mendorong perubahan kebijakan yang berarti, atau hanya akan menjadi catatan lain dalam statistik kekerasan bersenjata di Kanada?



