Kemenangan Telak BN di Johor: Anwar Terdesak, Koalisi Pemerintah Mulai Goyah?
Baca dalam 60 detik
- Barisan Nasional merebut 48 dari 56 kursi DPRD Johor, memperkuat posisi UMNO di pemerintahan pusat dan menekan Pakatan Harapan.
- Dukungan pemilih etnis minoritas terhadap PH mulai luntur, terlihat dari rendahnya partisipasi di basis tradisional DAP.
- Pilpres Negeri Sembilan menjadi ujian kritis bagi Anwar Ibrahim; kegagalan bisa mempercepat pemilu federal lebih awal dari jadwal.

Kemenangan telak Barisan Nasional (BN) dalam pemilihan negara bagian Johor, Malaysia, pekan lalu tidak hanya memperkuat posisi tawar koalisi tersebut di dalam pemerintahan persatuan pimpinan Perdana Menteri Anwar Ibrahim, tetapi juga membuka keretakan serius di basis pemilih tradisional Pakatan Harapan (PH). Analis menilai hasil ini menjadi sinyal peringatan dini bagi Anwar menjelang pemilihan krusial di Negeri Sembilan.
BN, yang berkuasa di Johor sejak lama, berhasil mengamankan 48 dari 56 kursi parlemen negara bagian โ naik delapan kursi dibandingkan pemilu 2022. Sementara itu, PH hanya memperoleh delapan kursi, turun dari 12 kursi sebelumnya. Kemenangan ini dipicu oleh popularitas Menteri Besar Johor, Onn Hafiz Ghazi, yang dianggap berhasil membawa pertumbuhan ekonomi dan stabilitas. Di bawah kepemimpinannya, Johor mencatat pertumbuhan PDB 8% pada 2025, tertinggi di Malaysia, serta investasi yang disetujui mencapai RM110 miliar (sekitar US$26 miliar).
โOnn Hafiz adalah faktor kunci. Ia memproyeksikan citra pemimpin generasi baru yang dekat dengan rakyat,โ ujar Awang Azman Awang Pawi, analis politik dari Universitas Malaya. Keberhasilan Onn Hafiz mempertahankan kursi Machap dengan mayoritas lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2022 menjadi bukti nyata. Ia juga berani menantang Anwar dalam isu otonomi fiskal dan proyek infrastruktur, seperti sistem Elevated Autonomous Rapid Transit (E-ART).
Di sisi lain, PH mengalami kemunduran signifikan di daerah pemilih dengan mayoritas etnis Tionghoa dan India. Partisipasi pemilih di kawasan seperti Perling, Tangkak, dan Bekok tercatat di bawah 60%, jauh dari rata-rata keseluruhan 68,73%. James Chin, profesor Kajian Asia dari Universitas Tasmania, menilai hal ini menunjukkan kekecewaan pemilih etnis minoritas terhadap PH, khususnya DAP. โBanyak pemilih Tionghoa tidak keluar memilih. Mereka ingin menghukum DAP,โ katanya. Kekalahan DAP di Johor memperpanjang tren buruk setelah partai itu gagal meraih satu pun kursi di Sabah pada pemilu sebelumnya.
Kemenangan BN juga dimudahkan oleh perpecahan di kubu oposisi Perikatan Nasional (PN). PAS dan Bersatu, dua partai utama PN, menunjukkan ketidakharmonisan selama kampanye. PAS bahkan mendorong pendukungnya untuk memilih BN di daerah yang tidak diisi kader PN. Akibatnya, BN berhasil merebut kembali tiga kursi yang sebelumnya dipegang PN, termasuk Bukit Kepong yang merupakan basis kuat presiden Bersatu, Muhyiddin Yassin. โBersatu kehilangan kursi kunci, dan sulit bagi Muhyiddin untuk pulih dari pukulan ini,โ ujar Azmi Hassan dari Nusantara Academy for Strategic Research.
Bagi partai-partai kecil, hasil pemilu Johor menjadi kenyataan pahit. MUDA, partai berbasis anak muda, kehilangan satu-satunya kursi yang dimilikinya. Sementara Parti Bersama Malaysia (Bersama) yang baru debut harus kehilangan deposit di semua 15 kursi yang diikuti karena perolehan suara hanya 3โ6%, jauh di bawah ambang 12,5%. Meski demikian, analis melihat masih ada ruang politik bagi partai kiri jika mereka mampu membangun identitas yang lebih jelas.
Meskipun para pemimpin BN dan PH menyatakan kerja sama di pemerintah pusat tidak akan terpengaruh, ketegangan mulai terlihat. Perseteruan antara Wakil Ketua DAP Nga Kor Ming dan Sekretaris Jenderal BN Zambry Abdul Kadir mengenai pengakuan Sertifikat Ujian Bersama (UEC) memanas selama kampanye. Nga bahkan sempat berjanji mundur dari jabatan partai jika BN menang lebih dari 40 kursi โ janji yang kemudian diingatkan oleh pemuda UMNO setelah kemenangan BN. โStabilitas pemerintahan akan bergantung pada disiplin kepemimpinan Zahid Hamidi dan Anwar Ibrahim dalam memisahkan kompetisi negara bagian dari kerja sama federal,โ kata Awang Azman.
Kini perhatian beralih ke Negeri Sembilan, negara bagian yang diperintah bersama oleh BN dan PH. Dengan komposisi DPRD saat ini 17 kursi PH, 14 UMNO, dan 5 PN, pemilu mendatang akan menjadi ujian berat bagi Anwar. BN telah menyatakan akan bertanding sendiri, sementara PH berencana mencalonkan kandidat di semua 36 kursi. โJika PH tidak berhasil di Negeri Sembilan atau kalah dari BN, kita bisa mengharapkan pemilu federal baru diadakan tahun depan untuk meredam momentum BN,โ ujar Adib Zalkapli dari Viewfinder Global Affairs. Pertanyaannya, mampukah Anwar membalikkan keadaan, atau justru kemenangan BN di Johor menjadi awal dari keruntuhan koalisi pemerintah?



