Perjalanan Pahlawan Berakhir: Swiss Pulang dengan Kepala Tegak Usai Dikalahkan Argentina
Baca dalam 60 detik
- Swiss harus mengakui keunggulan Argentina 3-1 di perempat final Piala Dunia, mengakhiri mimpi semifinal pertama sejak 1954.
- Absennya pencetak gol utama Johan Manzambi karena cedera dan kartu merah kontroversial Breel Embolo menjadi titik balik laga.
- Meski kalah, semangat juang Swiss menuai pujian dari presiden dan publik, menyamai capaian terbaik mereka di turnamen.

Kiprah Swiss di Piala Dunia 2026 harus terhenti di babak perempat final setelah takluk 3-1 dari Argentina dalam laga sengit yang berlangsung di Kansas City, Sabtu malam waktu setempat. Kekalahan ini sekaligus memupus harapan untuk menembus semifinal untuk pertama kalinya dalam 72 tahun.
Tim asuhan Murat Yakin sebenarnya tampil tangguh sepanjang turnamen. Mereka sukses melewati fase grup dengan mengalahkan Bosnia dan tuan rumah Kanada, lalu menyingkirkan Aljazair dan Kolombia di fase gugur. Namun, rintangan besar menghadang saat menghadapi juara bertahan Argentina. Tanpa top skor Johan Manzambi yang cedera lutut, Swiss kehilangan daya gedor. Kartu merah yang diterima Breel Embolo pada menit ke-72 semakin mempersulit situasi.
Pertandingan berjalan dramatis. Argentina unggul lebih dulu lewat Alexis Mac Allister, namun Dan Ndoye menyamakan kedudukan di menit ke-67. Saat laga tampak menuju adu penalti, Julian Alvarez dan Lautaro Martinez mencetak gol di masa perpanjangan waktu, memastikan kemenangan 3-1 untuk Argentina. Kekalahan ini meninggalkan kekecewaan mendalam, namun juga kebanggaan tersendiri bagi publik Swiss.
Presiden Swiss Guy Parmelin melalui media sosial menyatakan bahwa tim nasional telah memukau seluruh negeri. "Meskipun ada kekecewaan hari ini, yang menonjol adalah kampanye luar biasa dan tim yang kompak," tulisnya. Parmelin sebelumnya sempat menjadi sorotan karena mengenakan topi bergaya MAGA bertuliskan "Swiss: Hebat Sejak 1291" saat menonton pertandingan melawan Aljazair.
Para penggemar pun memberikan penghormatan. Laura K., seorang suporter di Nyon, mengatakan, "Di hati kami, kalian menang, Swiss. Sepuluh lawan sebelas melawan Argentina." Namun, tidak semua bisa menyembunyikan kekecewaan. Emma Bannerlin mengaku terlalu lelah untuk berbicara. Meski demikian, semangat juang anak asuh Yakin patut diacungi jempol.
Swiss mengandalkan perpaduan pemain senior dan muda. Kapten Granit Xhaka menjadi pemegang rekor penampilan terbanyak sepanjang masa setelah 15 tahun membela tim nasional. Tulang punggung tim berasal dari liga-liga top Eropa, seperti kiper Gregor Kobel, bek Manuel Akanji, gelandang Remo Freuler, serta penyerang Embolo dan Ndoye. Keberagaman latar belakang pemainโdari Kosovo, Turki, hingga Kamerunโmenjadi cerminan masyarakat Swiss yang multikultural.
Bagi Indonesia, perjalanan Swiss memberikan pelajaran berharga: tim yang solid dan beragam mampu bersaing di panggung tertinggi sepak bola dunia. Dengan pembinaan yang konsisten dan pemanfaatan diaspora, bukan tidak mungkin Garuda suatu hari nanti menapaki jejak serupa. Pertanyaan besarnya, akankah PSSI dan pemerintah serius membangun fondasi sepak bola nasional seperti yang dilakukan Swiss?



