MRT Jakarta Tuntaskan Terowongan Bawah Tanah Terdalam di Indonesia, Capai 28 Meter
Baca dalam 60 detik
- MRT Jakarta merampungkan penggalian terowongan arah utara sepanjang 5,8 km yang menghubungkan fase 1 dan 2A, menjadikannya terowongan kereta bawah tanah terdalam di Indonesia dengan kedalaman 28 meter.
- Pencapaian ini menggunakan tiga mesin bor terowongan yang bekerja secara paralel di tiga paket kontrak, menandai kemajuan signifikan dalam proyek transportasi massal ibu kota.
- Fase 2A ditargetkan beroperasi penuh pada akhir 2029, dengan segmen pertama Bundaran HI-Monas rampung pada 2027, memperkuat konektivitas Jakarta Utara-Selatan.

PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatat tonggak sejarah dalam pembangunan infrastruktur bawah tanah nasional dengan merampungkan penggalian terowongan jalur arah utara sepanjang 5,8 kilometer, yang kini menjadi terowongan kereta bawah tanah terdalam di Indonesia. Terowongan yang membentang dari Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta hingga Stasiun Kota ini berada pada kedalaman 28 meter di bawah permukaan tanah, melampaui rekor sebelumnya.
Penyelesaian ini ditandai dengan momen breakthrough ketika mesin bor terowongan 1 berhasil menembus sisi selatan Stasiun Mangga Besar. Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina, dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (9/7), menyatakan bahwa keberhasilan ini menjadi tonggak penting yang menghubungkan fase 1 dan fase 2A lintas utara-selatan. "Dengan pencapaian tersebut, terowongan arah utara sepanjang sekitar 5,8 kilometer kini telah menghubungkan fase 1 dan fase 2A lin utara selatan MRT Jakarta," ujarnya.
Proyek ambisius ini melibatkan tiga mesin bor terowongan yang bekerja sesuai paket kontrak masing-masing: CP201 dari Bundaran HI menuju Harmoni, CP202 dari Harmoni menuju Mangga Besar, dan CP203 dari Mangga Besar menuju Kota. Mesin bor terowongan 1 pada paket CP202 bertugas membangun terowongan sepanjang 395 meter antara Stasiun Harmoni dan Sawah Besar, serta 800 meter penghubung Sawah Besar-Mangga Besar. Tantangan teknis dihadapi saat mesin harus melakukan crossing di bawah kanal antara Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk.
Weni Maulina menambahkan bahwa pencapaian ini merupakan hasil perencanaan matang dan koordinasi erat antara MRT Jakarta, kontraktor, dan seluruh pemangku kepentingan. "Keberhasilan ini menjadi langkah penting menuju penyelesaian tahapan konstruksi berikutnya, sehingga proyek dapat terus berjalan sesuai jadwal," katanya. Saat ini, tim konstruksi tengah fokus pada pembangunan terowongan arah selatan dari Kota menuju Bundaran HI, yang ditargetkan seluruh terowongan fase 2A rampung pada kuartal IV 2026.
Bagi warga Jakarta, penyelesaian terowongan ini membawa angin segar bagi sistem transportasi massal. Fase 2A akan memperpanjang jalur MRT dari Bundaran HI hingga Kota, melewati kawasan padat seperti Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar. Dengan kedalaman 28 meter, terowongan ini tidak hanya menjadi rekor nasional tetapi juga menunjukkan kemampuan teknik sipil Indonesia dalam menghadapi tantangan geologis perkotaan. Keberadaan terowongan bawah kanal juga menjadi bukti adaptasi terhadap infrastruktur eksisting.
Ke depan, MRT Jakarta menargetkan operasional penuh fase 2A pada akhir 2029. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah target tersebut dapat tercapai mengingat kompleksitas proyek dan potensi kendala lahan serta pembiayaan. Masyarakat menanti realisasi konektivitas yang lebih mulus antara Jakarta Utara dan Selatan, yang diharapkan dapat mengurangi kemacetan dan polusi udara secara signifikan.



