Argentina Hajar Wales 35-21: Peringatan Keras bagi Tim Tandy
Baca dalam 60 detik
- Wales takluk 21-35 dari Argentina di San Juan, memperpanjang catatan tiga kekalahan beruntun lawan Pumas.
- Pumas mendominasi dengan lima try, 458 meter serangan, dan 31 tekel yang berhasil ditembus, sementara Wales hanya mampu membalas tiga try.
- Kekalahan ini menjadi ujian berat jelang lawatan ke Afrika Selatan, juara dunia ganda, yang pernah menghajar Wales 73-0.

Kekalahan telak 21-35 dari Argentina di San Juan, Sabtu (12/7), menjadi pukulan realitas yang sudah diduga banyak pihak bagi Wales. Setelah dua kemenangan beruntun melawan Italia dan Fiji, tim asuhan Steve Tandy harus mengakui keunggulan Pumas yang tampil lebih garang dan terorganisir.
Argentina, yang baru saja menang dramatis di Piala Dunia sepak bola, membuktikan diri sebagai lawan tangguh dengan lima try. Statistik menunjukkan dominasi mutlak: 458 meter serangan berbanding 209 meter milik Wales, 15 clean break berbanding tiga, dan 31 bekuk berhasil ditembus berbanding 15. “Mereka tim bagus dan punya lebih banyak waktu bersama setelah laga lawan Skotlandia,” ujar Tandy.
Wales sebenarnya menunjukkan semangat juang tinggi. Tiga try dicetak oleh pemain depan: Dewi Lake, Ben Warren, dan Rhys Carre—yang mencetak try kelima dalam enam laga internasional. Namun, pertahanan Wales kerap jebol di tekel pertama, terutama pada babak pertama. “Kami kehilangan beberapa tekel di babak pertama, itu menciptakan momentum yang sulit direbut kembali,” kata Tandy.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menyajikan pelajaran tentang pentingnya konsistensi fisik dan taktik. Timnas rugby Indonesia yang tengah naik daun bisa mencontoh bagaimana Argentina memanfaatkan kecepatan dan kekuatan untuk membongkar pertahanan lawan. Di sisi lain, Wales menunjukkan bahwa semangat saja tidak cukup tanpa akurasi dan kohesi tim.
Kekalahan ini juga menjadi alarm bagi Wales jelang lawatan ke Afrika Selatan. Springboks, juara dunia ganda, telah menggilas Wales 73-0 di Cardiff November lalu. Tandy mengakui tantangan berat: “Mereka bisa menurunkan dua atau tiga tim yang sama-sama impresif.” Perjalanan panjang dari Amerika Selatan ke Afrika—menyeberangi lima zona waktu sejauh 5.000 mil—semakin menguras energi pemain.
Kondisi fisik kapten Dewi Lake yang cedera kaki dan full-back Blair Murray yang juga bermasalah menambah kekhawatiran. Tandy berencana merotasi skuad 33 pemainnya, termasuk memberi kesempatan pada Tommy Reffell dan Ben Thomas yang belum tampil di Nations Championship. “Kami akan menilai semua pemain dan memutuskan tim,” katanya.
Dengan jadwal padat dan tekanan tinggi, Wales harus segera bangkit. Pertanyaan besarnya: mampukah mereka menghindari kekalahan telak kedua dari Afrika Selatan dalam waktu kurang dari setahun? Atau justru ini menjadi titik balik kebangkitan?



