Brandy Balas Body-Shaming: 'Kata-Kata Punya Bobot, Kebaikan Juga'
Baca dalam 60 detik
- Brandy, aktris dan penyanyi 47 tahun, merespons kritik terhadap penampilannya dengan unggahan Instagram yang menekankan bahwa kecantikan sejati lahir dari proses hidup, bukan dari penampilan fisik yang sempurna.
- Dalam pesannya, Brandy mengajak publik untuk tidak menghakimi orang lain berdasarkan penampilan karena setiap orang membawa cerita yang tidak terlihat, serta mengingatkan bahwa kata-kata dan penilaian memiliki dampak besar.
- Brandy yang baru kembali ke sorotan setelah menerima bintang di Hollywood Walk of Fame dan merilis memoar 'Phases' pada Maret lalu, juga pernah berbagi pengalaman soal gangguan makan saat remaja.

Brandy, bintang sitkom Moesha dan penyanyi hits 'The Boy Is Mine', angkat bicara menanggapi hujatan terkait penampilan fisiknya yang belakangan ramai di media sosial. Lewat unggahan di Instagram, perempuan 47 tahun itu tidak sekadar membela diri, melainkan menyampaikan refleksi mendalam tentang kecantikan, penerimaan diri, dan bahaya menghakimi orang lain hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Dalam unggahannya, Brandy menulis bahwa manusia sering kali mencari kecantikan di tempat yang salah—pada kemudaan, kesempurnaan, persetujuan orang lain, dan tubuh yang tidak pernah berubah. “Tetapi hidup tidak pernah dimaksudkan untuk membiarkan kita tidak tersentuh. Hidup membentuk kita, merendahkan kita, memurnikan kita,” tulisnya. Ia menekankan bahwa kecantikan sejati bukanlah tentang menghindari perubahan, melainkan tentang menjadi lebih baik melalui proses tersebut.
Brandy juga mengimbau agar orang tidak menghakimi penampilan orang lain, karena setiap individu membawa cerita yang tidak terlihat. “Butuh waktu sekejap untuk membentuk opini tentang penampilan seseorang, dan seumur hidup untuk memahami apa yang telah mereka lalui,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kata-kata dan penilaian memiliki bobot, demikian pula kebaikan. “Dunia akan selalu tergoda untuk mengukur orang dari apa yang terlihat. Tetapi cinta tidak pernah hanya melihat permukaan. Cinta melihat seluruh pribadi.”
Pernyataan Brandy ini muncul di tengah tren peningkatan kesadaran akan body positivity dan dampak buruk body shaming di media sosial. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi, terutama di kalangan selebritas dan publik figur. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, menilai bahwa pesan Brandy mengingatkan pentingnya empati digital. “Komentar tentang penampilan, meski terkesan sepele, bisa memicu kecemasan dan depresi, terutama pada remaja yang sedang membentuk identitas diri,” ujarnya.
Brandy juga mengingatkan bahwa setiap orang adalah “anak seseorang, teman seseorang, mimpi seseorang, jiwa seseorang.” Ia berharap unggahannya dapat mendorong orang untuk lebih lembut satu sama lain. “Jiwa selalu lebih indah daripada permukaan,” pungkasnya.
Langkah Brandy ini menjadi pengingat bahwa di era digital yang serba cepat menghakimi, dibutuhkan keberanian untuk menegaskan nilai diri di luar standar kecantikan sempit. Akankah pesan ini mengubah cara publik berinteraksi di media sosial? Atau akankah body shaming terus menjadi momok yang tak kunjung usai?



