Diary of Japanese POW in WWII Dipamerkan di Manila: Refleksi Lintas Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Buku harian Shinichi Komatsu, insinyur Jepang yang menjadi tawanan perang di Filipina, dipamerkan di Ayala Museum Manila hingga 16 Agustus.
- Diary berisi sketsa dan catatan tentang kehidupan di hutan, interaksi dengan tentara Jepang dan Amerika, serta refleksi kemanusiaan di tengah perang.
- Pameran ini diharapkan menjadi jembatan pemahaman sejarah antara Jepang dan Filipina, mengingat masa lalu kelam pendudukan Jepang di Filipina.

Untuk pertama kalinya di luar Jepang, salinan buku harian seorang insinyur Jepang yang menjadi tawanan perang (POW) selama Perang Dunia II dipamerkan di Ayala Museum, Manila. Pameran yang berlangsung hingga 16 Agustus ini mengajak pengunjung merenungkan kompleksitas perang dan dampaknya terhadap individu, melampaui batas kebangsaan dan zaman.
Buku harian berjudul "Ryojin Nikki" (Catatan Tawanan) karya Shinichi Komatsu, yang pertama kali diterbitkan secara komersial pada 1975, menampilkan sketsa dan tulisan tangan yang mendokumentasikan pengalamannya di Filipina. Shinichi, yang saat itu berusia 30-an, dikirim ke Negros pada Maret 1944 untuk memberikan bimbingan teknis produksi bahan bakar alternatif dari tanaman. Setelah perang berakhir, ia ditawan dan menjadi POW.
Dalam diskusi di museum yang terletak di distrik bisnis Makati, Shiko Komatsu, cucu Shinichi yang berusia 50 tahun, mengungkapkan harapannya agar buku harian ini membantu generasi sekarang belajar dari masa lalu dan saling memahami lebih dalam. "Buku harian ini sangat istimewa karena berisi kata-kata dan gambar. Saya percaya ia akan terus menceritakan kebenaran sejarah kepada kita hari ini dan di masa depan," ujarnya.
Sketsa-sketsa dalam diary menggambarkan makanan di hutan, tentara Jepang dan Amerika selama serta setelah konflik, menunjukkan sisi sulit dan kebaikan. Sejak diterbitkan, "Ryojin Nikki" dipuji sebagai sumber berharga tentang pengalaman non-kombatan di medan perang.
Profesor Karl Cheng Chua, pakar studi Jepang dari Filipina, yang pertama kali merujuk diary ini untuk makalah akademis, menjadi tokoh kunci di balik pameran. Ia terinspirasi oleh pesan terakhir Presiden Filipina Elpidio Quirino yang mengampuni penjahat perang Jepang pada 1953, meskipun Quirino kehilangan beberapa anggota keluarga dalam Pertempuran Manila 1945. "Kebencian yang kita bawa setelah perang seharusnya tidak ada untuk masyarakat masa depan," kenang Cheng Chua menirukan pesan Quirino.
Pameran ini memiliki resonansi khusus bagi Indonesia, yang juga mengalami pendudukan Jepang (1942-1945). Narasi rekonsiliasi dan pengampunan yang diusung oleh Quirino mengingatkan pada upaya serupa di Indonesia, seperti pembentukan hubungan diplomatik dengan Jepang pasca-perang. Bagi pembaca Indonesia, pameran ini menjadi pengingat bahwa sejarah perang tidak hanya tentang pertempuran, tetapi juga tentang kemanusiaan individu yang terjebak di dalamnya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah dokumen serupa dari masa pendudukan Jepang di Indonesia juga akan mendapat tempat di museum-museum tanah air. Pameran di Manila membuka peluang untuk dialog sejarah yang lebih inklusif, melampaui narasi nasionalistik yang sering mendominasi.



