Kasus Flu Burung H5N1 pada Manusia di Kamboja Bertambah: Bayi 9 Bulan Positif
Baca dalam 60 detik
- Kamboja mencatat kasus kelima flu burung H5N1 pada manusia di tahun 2026, dengan pasien terbaru adalah bayi perempuan berusia sembilan bulan dari Phnom Penh.
- Otoritas kesehatan setempat tengah melakukan investigasi sumber infeksi dan pelacakan kontak erat untuk mencegah penularan lebih luas di komunitas.
- Kasus ini mengingatkan kembali risiko zoonosis yang masih mengancam, terutama di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia yang memiliki populasi unggas besar.

Seorang bayi perempuan berusia sembilan bulan di Phnom Penh, Kamboja, dikonfirmasi terinfeksi virus H5N1 atau flu burung, menjadikannya kasus kelima pada manusia di negara itu sepanjang tahun 2026. Kementerian Kesehatan Kamboja, dalam pernyataan resmi yang dirilis Sabtu (11/7) malam, menyatakan bahwa bayi yang berasal dari Desa Prek Takong, Distrik Meanchey, tersebut dinyatakan positif pada Kamis lalu dan kini tengah menjalani perawatan intensif oleh tim dokter.
Penambahan kasus ini menimbulkan kekhawatiran baru di tengah upaya global mengendalikan penyebaran flu burung. Meskipun penularan antar manusia masih terbatas, setiap kasus baru pada manusia meningkatkan risiko adaptasi virus yang bisa memicu pandemi. Kementerian Kesehatan Kamboja menyebutkan bahwa otoritas setempat sedang menyelidiki sumber infeksi dan melakukan pelacakan kontak erat untuk mencegah penularan di komunitas.
Virus H5N1 umumnya beredar di kalangan unggas, namun dapat menginfeksi manusia dan menyebabkan gejala mulai dari demam, batuk, hingga penyakit pernapasan berat yang berpotensi fatal. Kamboja sendiri telah mencatat lonjakan kasus pada manusia dalam beberapa tahun terakhir, dengan total lima kasus di 2026 saja, mengindikasikan bahwa virus masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan kerentanan negara dengan populasi unggas terbesar di Asia Tenggara. Meskipun Indonesia belum melaporkan kasus H5N1 pada manusia dalam beberapa tahun terakhir, sirkulasi virus pada unggas masih terdeteksi di berbagai daerah. Para ahli mengingatkan bahwa praktik pemeliharaan unggas yang kurang higienis dan konsumsi daging unggas yang tidak dimasak sempurna menjadi faktor risiko utama.
Kementerian Kesehatan Kamboja mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi unggas yang sakit atau mati mendadak, serta memasak daging unggas hingga matang sempurna. Imbauan serupa juga relevan bagi Indonesia, mengingat budaya konsumsi unggas yang tinggi dan masih adanya pasar unggas hidup di berbagai kota.
Ke depannya, pengawasan ketat terhadap sirkulasi virus pada unggas dan kesiapsiagaan sistem kesehatan menjadi kunci untuk mencegah lonjakan kasus pada manusia. Pertanyaannya, apakah negara-negara di kawasan ini sudah cukup siap menghadapi potensi lonjakan kasus flu burung yang lebih luas?



