Pemimpin Baru Iran Ancam Balas Dendam, Trump Siapkan Serangan Total
Baca dalam 60 detik
- Mojtaba Khamenei, penerus Ali Khamenei, menyatakan pembalasan atas kematian ayahnya adalah kehendak bangsa dan tak terhindarkan.
- Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan Iran jika ada upaya pembunuhan terhadap dirinya, dengan ribuan rudal siap diluncurkan.
- Sengketa Selat Hormuz dan serangan terbaru memicu eskalasi, sementara mediasi Qatar dan Pakistan berupaya menyelamatkan diplomasi.

Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menuntut pembalasan atas tewasnya ayahnya, Ali Khamenei, dalam serangan AS-Israel beberapa bulan lalu. Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa setiap upaya pembunuhan terhadap dirinya akan berujung pada penghancuran total Iran. Kedua pihak kini saling melempar ancaman di tengah gencatan senjata yang sudah rapuh.
Mojtaba Khamenei, yang mengambil alih kekuasaan setelah ayahnya terbunuh pada akhir Februari, menegaskan bahwa aksi balas dendam tidak bergantung pada dirinya atau pejabat lain. "Pembalasan adalah kehendak bangsa kami dan pasti akan dilaksanakan," tulisnya dalam pesan pertama sejak pemakaman ayahnya. Ia mengklaim Iran telah menyusun daftar target individu yang akan menjadi sasaran. Sikap ini menandai eskalasi retorika yang semakin memanaskan situasi di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Trump melalui platform Truth Social-nya mengancam akan meluncurkan serangan besar-besaran. "Seribu rudal sudah siap dan diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan lainnya akan segera menyusul," tulisnya. Ia menegaskan bahwa militer AS telah diberi perintah untuk menghancurkan seluruh wilayah Iran selama satu tahun, dengan opsi perpanjangan. Ancaman ini muncul setelah pekan lalu terjadi saling serang yang mengguncang kesepakatan sementara antara kedua negara.
Ketegangan terbaru dipicu oleh tuduhan Iran menembaki tiga kapal komersial yang dianggap menyimpang dari rute yang disetujui. AS kemudian melancarkan serangan udara besar-besaran yang memicu gelombang pembalasan Iran terhadap negara-negara teluk yang memiliki pangkalan militer AS. Meskipun Qatar menjadi salah satu sasaran saat perang, negara itu justru memimpin upaya diplomasi. Delegasi Qatar telah mengunjungi Iran, sementara emir Qatar berkoordinasi dengan Pakistan yang juga bertindak sebagai mediator.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik ini memiliki implikasi langsung. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah, yang selama ini menjadi andalan impor energi Indonesia. Penutupan selat tersebut telah mendorong kenaikan harga energi global dan memicu inflasi di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak lanjutan, termasuk potensi gangguan pasokan dan lonjakan harga BBM. Selain itu, ketegangan ini juga mengancam stabilitas keamanan di kawasan yang menjadi mitra dagang utama Indonesia.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang tiba di Oman untuk membahas administrasi Selat Hormuz, menegaskan bahwa Tehran telah memenuhi komitmennya dalam nota kesepahaman dengan AS. Namun, ia menekankan bahwa kepatuhan harus bersifat timbal balik. Sementara itu, ketua negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa perang tidak akan pernah berakhir dengan penyerahan Iran. "Kami sepenuhnya siap membela diri," ujarnya.
Dengan kedua pihak yang sama-sama keras kepala, jalan menuju perdamaian masih terjal. Pertanyaan besarnya, apakah mediasi internasional mampu mencegah konflik terbuka yang dapat mengguncang ekonomi global, atau justru eskalasi ini akan menjadi awal dari perang yang lebih luas?



