Final Wimbledon: Sinner Waspadai Zverev yang Kini Bermental Juara
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner mengincar gelar Wimbledon kedua beruntun, tetapi Alexander Zverev datang dengan percaya diri usai merebut Grand Slam perdana di Prancis.
- Meski unggul head-to-head 9-0 dalam sembilan pertemuan terakhir, Sinner mengakui Zverev kini lawan yang berbeda setelah sukses di Roland Garros.
- Pertandingan final ini mempertemukan dua pemain dengan performa servis dan pengembalian terbaik di turnamen, menjanjikan duel sengit di lapangan rumput.

Jannik Sinner, petenis nomor satu dunia asal Italia, mengaku waspada menghadapi Alexander Zverev di final Wimbledon, Minggu (12/7/2026). Meski rekor pertemuan menunjukkan dominasi mutlak Sinner, Zverev yang kini menyandang status juara Grand Slam diyakini menjadi lawan yang jauh lebih berbahaya.
Sinner berpeluang menjadi pemain kesepuluh di era Open yang sukses mempertahankan gelar juara tunggal putra All England Club. Ia mengalahkan Carlos Alcaraz di final tahun lalu untuk meraih trofi pertamanya di London. Namun, kemenangan beruntun Sinner atas Zverev dalam sembilan pertemuan terakhir—enam di antaranya tanpa kehilangan satu set pun—kini diuji oleh kepercayaan diri baru sang rival.
"Apa pun yang terjadi di masa lalu antara saya dan dia, itu sudah berlalu. Di antaranya, dia memenangkan Grand Slam di Paris, yang memberinya banyak kepercayaan diri," ujar Sinner, seperti dikutip BBC Sport. "Dia pemain yang sulit dilawan. Sebelumnya juga, tapi sekarang lebih lagi. Dia sangat rileks di lapangan saat ini. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik, tapi ini akan sangat, sangat sulit—sangat berbeda dari semua pertandingan lain yang kami mainkan."
Zverev, yang kini berusia 29 tahun, akhirnya melepas predikat sebagai petenis terbaik tanpa gelar mayor setelah mengalahkan Flavio Cobolli di final Prancis Terbuka bulan lalu—sebuah kemenangan pada penampilan Grand Slam ke-41. "Saya tetap fokus. Saya tetap lapar. Saya ingin lebih. Saya ingin terus bermain di level terbaik dan terus menang. Pada hari Minggu saya punya kesempatan besar lagi," kata Zverev. "Setelah Anda memenangkan satu major, Anda tahu cara melakukannya dan Anda merasa bisa melakukannya lagi."
Kedua pemain adalah yang paling on-fire musim ini, menjadi satu-satunya yang meraih 40 kemenangan atau lebih pada 2026. Zverev akan naik ke peringkat dua dunia pada Senin mendatang. Sinner sendiri mengincar gelar Grand Slam kelima setelah tampil garang menyingkirkan Novak Djokovic di semifinal. Ia tampil tanpa ampun, mengalahkan pemain yang dianggap sebagai rintangan terbesarnya dalam tiga set langsung.
Sinner tiba di Wimbledon setelah tidak bertanding sejak tersingkir secara mengejutkan di Prancis Terbuka, di mana ia kehabisan tenaga dalam kondisi panas terik dan kalah dari Juan Manuel Cerundolo meski unggul dua set dan 5-1. Namun, seperti setelah kekalahan pahit dari Alcaraz di final Prancis Terbuka tahun lalu, Sinner kembali bangkit dan berada di ambang kejayaan. Ia telah mencapai tujuh final Grand Slam sejak awal musim 2024 dan memimpin tur dalam jumlah gelar tunggal yang dimenangkan pada 2026 setelah memenangkan semua lima turnamen Masters 1000.
Zverev, yang mengakhiri rentetan sembilan turnamen Grand Slam yang dimenangkan oleh Sinner atau Alcaraz dengan kemenangannya di Roland Garros, kini berusaha menjadi pemain pertama di era Open yang memenangkan gelar mayor kedua segera setelah yang pertama. Namun, ia belum pernah memenangkan gelar level tur di rumput—dan akan menjadi pemain keempat di era Open yang merebut gelar Wimbledon pertamanya sebagai gelar mayor kedua.
Final ini menjadi pertemuan pertama mereka di Wimbledon dan di permukaan rumput. Sinner memenangkan pertemuan terakhir di final Grand Slam satu-satunya mereka sebelumnya, yaitu di Australia Terbuka tahun lalu. Kedua pemain mengandalkan servis yang luar biasa sepanjang turnamen, memenangkan lebih dari 90% game servis mereka. Sinner unggul dalam persentase poin servis pertama (85%) dan jumlah ace (113 berbanding 87). Namun, kualitas servis Zverev (9,2) dinilai lebih tinggi dari Sinner (8,7), dengan kecepatan rata-rata servis pertama 133 mph dan kedua 118 mph.
Di sisi lain, Sinner menghadapi pemain yang oleh Djokovic—pemenang 24 gelar mayor—disebut sebagai pengembali terbaik baru di olahraga ini. Sinner unggul dalam semua metrik pengembalian selama dua pekan terakhir, dengan kualitas pengembalian keseluruhan (8,1) jauh di atas Zverev (7,3). Kualitas forehand (8,5) dan backhand (8,2) Sinner juga lebih tinggi dari Zverev (8,3 dan 8,1). Keduanya menempati peringkat tertinggi dalam rating performa keseluruhan di Wimbledon tahun ini.
Bagi penggemar tenis Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan menarik karena mempertemukan dua gaya bermain yang kontras: ketenangan dan konsistensi Sinner melawan kekuatan dan agresivitas Zverev. Keduanya sama-sama belum pernah memenangkan gelar di Asia Tenggara, namun performa mereka di level tertinggi menjadi inspirasi bagi petenis muda Tanah Air yang mulai merambah turnamen internasional. Dapatkah Zverev mematahkan dominasi Sinner dan meraih gelar Wimbledon pertamanya, atau justru Sinner yang akan menegaskan superioritasnya di puncak tenis dunia?



