Studi Ungkap Risiko Depresi dan Kecemasan pada Mantan Pesepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Penelitian Imperial College London menemukan 31% mantan pemain sepak bola profesional usia 30-60 tahun mengalami depresi klinis, jauh di atas populasi umum.
- Pemindaian otak menunjukkan volume materi abu-abu lebih rendah di area kunci memori dan pengambilan keputusan, mengindikasikan dampak jangka panjang dari benturan kepala.
- Temuan ini memperkuat seruan pembatasan heading di sepak bola anak dan dewasa, serta mendorong riset lebih lanjut untuk intervensi dini.

Mantan pesepak bola profesional menghadapi risiko jauh lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan kognitif di usia paruh baya dibandingkan populasi umum. Temuan terbaru dari Imperial College London yang dipresentasikan dalam Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer mengungkapkan bahwa 31% dari 124 mantan pemain berusia 30-60 tahun yang diuji menunjukkan skor depresi klinis signifikan, melonjak 22% lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang tidak memiliki riwayat olahraga kontak atau cedera kepala.
Penelitian yang didanai oleh Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan Asosiasi Pesepak Bola Profesional (PFA) ini melibatkan mantan pemain dari Premier League, Championship, dan Liga Super Wanita. Temuan ini muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap dampak heading terhadap kesehatan otak, terutama setelah sejumlah kasus kematian mantan pemain seperti legenda Manchester United dan Leeds, Gordon McQueen, yang dikaitkan dengan penyakit neurodegeneratif.
Dalam kategori kecemasan klinis, 42% mantan pemain mencapai ambang batas signifikan, dibandingkan dengan 25% pada non-pemain. Pemindaian otak mengungkapkan volume materi abu-abu yang lebih rendah di beberapa area otak yang penting untuk memori, perhatian, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi. Para mantan pemain juga menilai kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan mereka lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.
Heather Snyder, Wakil Presiden Senior Hubungan Medis dan Ilmiah Asosiasi Alzheimer, menekankan bahwa ini adalah studi pertama dan terbesar yang melihat kesehatan otak pensiunan pemain di usia paruh baya. "Kami melihat perubahan otak ini pada titik sebelum kami mengharapkan gejala klinis muncul," ujarnya. Ia menambahkan bahwa temuan ini dapat membantu deteksi dini dan intervensi untuk menjaga kesehatan otak.
Meskipun hubungan antara heading dan kerusakan otak sulit dibuktikan secara langsung—karena diagnosis pasti seperti Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE) hanya bisa dilakukan setelah kematian—studi ini menambah bukti bahwa benturan kepala berulang berkontribusi pada neurodegenerasi. Profesor Willie Stewart dari Universitas Glasgow sebelumnya mengungkapkan bahwa risiko mantan pemain terkena penyakit otak degeneratif sekitar 3,5 kali lebih tinggi dari normal, dengan perubahan unik di otak yang hanya muncul pada atlet.
Di Inggris, langkah-langkah pembatasan heading telah diterapkan, termasuk larangan heading di sepak bola anak di Inggris, Skotlandia, dan Irlandia Utara, serta pedoman pembatasan heading berkecepatan tinggi dalam latihan. Skotlandia bahkan melarang heading sehari sebelum dan sesudah pertandingan. Pada 2023, PFA dan Premier League mendirikan dana kesehatan otak untuk membantu mantan pemain dan keluarga yang terdampak demensia.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan kesehatan otak di semua cabang olahraga kontak. Dengan populasi pesepak bola aktif yang besar, regulator olahraga nasional dapat mempertimbangkan pedoman serupa, terutama untuk kelompok usia muda. Riset lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme biologis di balik perubahan otak dan mengembangkan strategi pencegahan yang efektif.
Para peneliti berencana terus memantau kesehatan otak partisipan studi ini. "Kita perlu memahami mengapa perubahan otak ini terjadi, apa konsekuensi jangka panjangnya, dan bagaimana kita bisa membantu," pungkas Snyder. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah langkah pembatasan heading yang ada sudah cukup, atau diperlukan tindakan yang lebih ketat untuk melindungi generasi pemain masa depan?



