Spesies Hiu Berjalan Ditemukan di Papua Nugini, Ancamannya Sudah di Depan Mata
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Australia mengonfirmasi spesies baru hiu berjalan, Hemiscyllium dudgeonae, di perairan dangkal Milne Bay, Papua Nugini, dengan ciri khas garis putih di punggung.
- Temuan 12 individu ini langka karena hiu baru jarang terdeskripsi, namun habitat terumbu karang yang terbatas membuat spesies ini rentan terhadap degradasi dan perubahan iklim.
- Status konservasi belum ditetapkan IUCN, dan riset lanjutan Oktober mendatang akan menentukan apakah spesies ini masuk kategori rentan atau terancam punah.

Di perairan dangkal Milne Bay, ujung tenggara Papua Nugini, tim kelautan University of the Sunshine Coast berhasil menangkap spesies hiu yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya. Spesimen pertama ditangkap langsung dengan tangan oleh peneliti Christine Dudgeon, dan setelah analisis genetik, hiu tersebut resmi dinamai Hemiscyllium dudgeonae atau Dudgeon’s Walking Shark. Penemuan yang dipublikasikan di Journal of the Ocean Science Foundation ini menjadi deskripsi pertama hiu berjalan sejak 2013.
Hiu berjalan, anggota genus Hemiscyllium, dikenal karena kemampuannya bergerak di darat menggunakan sirip dada dan perut yang berotot. Mereka melintasi rataan terumbu yang kering saat air surut untuk berpindah antar kolam sisa air laut. Spesies ini mampu bertahan hingga dua jam dalam kondisi oksigen rendah—adaptasi yang sebelumnya diteliti pada hiu epaulette. Ukuran tubuhnya sekitar 90 sentimeter, tidak membahayakan manusia, dan bergerak lamban. Warga setempat menyebutnya kadedekedewa, yang berarti “hiu anjing” atau “hiu pemalas.”
Yang membedakan spesies baru ini dari kerabatnya adalah pola garis putih di sepanjang punggung cokelatnya, bukan bintik macan tutul seperti yang diperkirakan peneliti. “Hal pertama yang mencolok adalah garis-garis putih di sepanjang tubuhnya,” ujar Jess Blakeway, peneliti lain dalam studi tersebut. Selama dua malam berikutnya, tim menemukan 11 individu tambahan, sehingga total 12 ekor—jumlah signifikan untuk penemuan awal sebuah spesies.
Meski penemuan ini menggembirakan, para peneliti mengingatkan bahwa spesies baru ini menghadapi ancaman serius. Habitatnya yang terbatas di perairan dangkal sekitar Papua Nugini, Papua, dan Australia utara membuatnya bergantung pada kesehatan terumbu karang. Degradasi habitat akibat aktivitas perikanan, polusi, dan perubahan iklim menjadi momok utama. “Kami berharap dapat mengumpulkan lebih banyak data pada perjalanan Oktober mendatang untuk membantu IUCN Red List menilai status spesies ini,” kata Blakeway.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan karena perairan Papua bagian barat berbatasan langsung dengan lokasi penemuan. Spesies hiu berjalan juga dilaporkan ada di perairan Papua, meski belum teridentifikasi secara resmi. Riset lebih lanjut diharapkan melibatkan kolaborasi dengan peneliti Indonesia, mengingat potensi keanekaragaman hayati laut yang masih belum terungkap. Status konservasi yang belum jelas juga menimbulkan kekhawatiran: tanpa data populasi yang memadai, spesies ini bisa punah sebelum sempat dilindungi.
Penemuan spesies hiu baru memang jarang terjadi. Christine Dudgeon, yang namanya diabadikan, menyatakan, “Spesies hiu baru tidak sering ditemukan, dan ini jelas yang pertama diberi nama sesuai nama saya.” Dengan hanya 12 individu yang tercatat, pertanyaan besarnya adalah: apakah populasi ini cukup besar untuk bertahan di tengah tekanan lingkungan yang semakin meningkat? Riset Oktober mendatang diharapkan menjawabnya.



