Selat Hormuz Kembali Membara: Iran Tutup Jalur Minyak, AS Gelar Serangan Balasan
Baca dalam 60 detik
- Iran menutup Selat Hormuz setelah tembakan peringatan mengenai kapal sipil, memicu gelombang baru serangan AS.
- Eskalasi ini mengancam gencatan senjata yang rapuh dan berpotensi mengerek harga energi global, termasuk impor minyak Indonesia.
- Serangan balasan AS dan keterlibatan aktor regional meningkatkan risiko konflik berkepanjangan di jalur pelayaran tersibuk dunia.

Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah Iran mengumumkan penutupan jalur perairan strategis tersebut, menyusul insiden tembakan peringatan yang mengenai sebuah kapal kontainer. Langkah Teheran ini langsung direspons Washington dengan melancarkan serangan udara gelombang ketiga ke pangkalan militer Iran di pesisir selatan negara itu.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa sebuah kapal berbendera Siprus mengalami kerusakan parah di ruang mesin dan satu awak sipil dilaporkan hilang. "Amerika Serikat terus memberikan tekanan dengan menghancurkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal dagang yang melintas secara bebas," demikian pernyataan resmi militer AS.
Penutupan Selat Hormuz—yang sebelumnya menjadi jalur transit seperlima minyak dan gas dunia—kembali memicu kekhawatiran akan krisis energi global. Meski harga minyak telah turun drastis dari puncak perang di level 120 dolar AS per barel, eskalasi terbaru ini berpotensi mengerek kembali harga komoditas energi. Bagi Indonesia, yang masih mengimpor minyak mentah dalam jumlah signifikan, setiap gejolak di jalur ini berarti tekanan tambahan pada anggaran subsidi dan neraca perdagangan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, melalui media sosial, menyatakan "Iran membuat pilihan yang buruk. Kini mereka harus membayar." Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan pertamanya sejak pemakaman ayahnya, berjanji akan membalas kematian Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan pembuka perang pada 28 Februari. "Balas dendam adalah kehendak bangsa kami dan pasti akan dilaksanakan," ujarnya dalam pernyataan yang disiarkan televisi negara.
Diplomasi yang sempat berlangsung antara Iran dan Oman pada Sabtu lalu gagal meredakan situasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata sementara dengan mengakhiri pengecualian yang memungkinkan Iran menjual minyak mentah di pasar terbuka dengan dolar AS. "Cek realitas: kepatuhan harus bersifat timbal balik," tulis Araghchi di media sosial.
Presiden AS Donald Trump, yang mengklaim menjadi sasaran plot pembunuhan Iran, mengancam akan meluncurkan ribuan rudal jika Teheran bertindak. Namun, wewenang untuk memerintahkan serangan balasan otomatis akan jatuh ke tangan Wakil Presiden JD Vance jika Trump tewas. Trump juga menyatakan gencatan senjata telah berakhir, meski negosiasi akan tetap dilanjutkan.
Pertanyaan kini mengemuka mengenai aktor di balik serangan tambahan yang dilaporkan menghantam Iran setelah AS mengakhiri serangan pada Kamis lalu. Israel tidak mengklaim serangan tersebut, sehingga diduga negara-negara Teluk Arab-lah yang melancarkannya sebagai bentuk pencegahan. Iran sebelumnya telah membalas serangan AS dengan menargetkan Bahrain, Yordania, Kuwait, dan Qatar.
Dengan Selat Hormuz kembali menjadi medan konflik, stabilitas pasokan energi global—dan dampaknya terhadap ekonomi domestik Indonesia—bergantung pada apakah kedua belah pihak mampu menahan diri atau justru terperosok ke dalam siklus serangan yang tak berkesudahan.



