Paolo Maldini Resmi Jabat Direktur Teknik FIGC: Misi Membangkitkan Kembali Kejayaan Italia
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini ditunjuk sebagai direktur teknik FIGC untuk memulihkan performa timnas Italia yang gagal lolos ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut.
- Maldini, legenda AC Milan dengan 126 caps, akan bekerja sama dengan penasihat Leonardo dan bertugas mencari pelatih baru setelah pemecatan Gennaro Gattuso.
- Penunjukan ini terjadi di bawah kepemimpinan presiden baru FIGC, Giovanni Malago, yang menggantikan Gabriele Gravina yang mundur karena kegagalan kualifikasi.

Paolo Maldini, legenda sepak bola Italia yang namanya identik dengan AC Milan dan tim nasional, resmi mengemban amanah sebagai direktur teknik Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) pada Sabtu (11/7). Keputusan ini diambil di tengah tekanan besar untuk membangkitkan kembali kejayaan Gli Azzurri yang tiga kali berturut-turut gagal menembus putaran final Piala Dunia.
Maldini, yang mengoleksi 126 caps bersama Italia, bukanlah wajah baru di dunia kepelatihan. Sebelumnya, ia menjabat sebagai direktur teknik AC Milan selama empat tahun, membantu klub tersebut meraih tujuh gelar Serie A. Kini, tantangan yang dihadapinya jauh lebih berat: mengembalikan Italia ke panggung tertinggi sepak bola dunia setelah absen di Piala Dunia 2018, 2022, dan 2026.
Penunjukan ini terjadi hanya sebulan setelah Giovanni Malago terpilih sebagai presiden FIGC. Malago, yang sebelumnya memimpin komite penyelenggara Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026, menggantikan Gabriele Gravina yang mengundurkan diri pada April lalu. Kepergian Gravina dipicu oleh kegagalan mengejutkan Italia di babak kualifikasi Piala Dunia 2026, yang memicu kemarahan luas dari penggemar dan politikus.
Salah satu tugas pertama Maldini adalah mencari pelatih kepala baru untuk tim nasional. FIGC baru saja memutuskan hubungan dengan Gennaro Gattuso setelah kekalahan adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina pada play-off Maret lalu. Hasil itu memastikan Italia, juara dunia empat kali, kembali absen dari ajang paling bergengsi sepak bola. Maldini diharapkan membawa pengalaman dan jaringan luasnya untuk menemukan sosok yang tepat.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa regenerasi dan perencanaan jangka panjang sangat krusial dalam sepak bola. Italia, yang pernah menjadi kiblat taktik, kini harus merombak total sistem pembinaan. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya konsistensi kepemimpinan dan investasi pada pengembangan pemain muda, sesuatu yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi sepak bola Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Maldini mampu mengulang kesuksesannya di Milan untuk level tim nasional. Dengan kontrak hingga 2028, ia memiliki waktu untuk membangun fondasi. Namun, tekanan publik dan ambisi untuk kembali ke Piala Dunia 2030 akan menjadi ujian sesungguhnya.



