El Nino 2026 Memicu Lonjakan ISPA dan Heat Stroke, BPBD Yogyakarta Siaga 24 Jam
Baca dalam 60 detik
- BPBD Kota Yogyakarta mengaktifkan pos siaga dan tim reaksi cepat selama 24 jam untuk mengantisipasi dampak El Nino yang memicu cuaca ekstrem.
- Fenomena bediding menyebabkan perbedaan suhu hingga 13 derajat Celsius antara malam dan siang, meningkatkan risiko ISPA, dehidrasi, dan heat stroke.
- Masyarakat diimbau tidak membakar sampah sembarangan dan memeriksa instalasi listrik guna mencegah kebakaran yang rawan terjadi di musim kemarau.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan dan kebakaran akibat fenomena El Nino yang diprakirakan memperpanjang musim kemarau tahun ini. Langkah siaga 24 jam ditempuh menyusul prediksi BMKG bahwa musim hujan 2026 akan datang lebih lambat dari biasanya, memperparah kondisi cuaca ekstrem yang sudah mulai terasa.
Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Yogyakarta, Iswari Mahendrarko, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengerahkan Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat untuk memantau perkembangan di lapangan. "Kami bersiaga penuh untuk mempercepat penanganan jika terjadi keadaan darurat," ujarnya di Yogyakarta, Sabtu (11/7).
Fenomena bediding menjadi perhatian utama. Kondisi ini ditandai dengan suhu dingin ekstrem pada malam hingga pagi hari—berkisar 19–21 derajat Celsius—yang kemudian berubah drastis menjadi panas terik pada siang hari mencapai 31–32 derajat Celsius. Perbedaan suhu yang tajam ini, menurut Iswari, lazim terjadi saat puncak kemarau akibat minimnya tutupan awan. Panas matahari langsung membakar permukaan bumi pada siang hari, sementara pada malam hari panas tersebut cepat lepas ke atmosfer.
Dampak kesehatan dari fluktuasi suhu ini tidak bisa dianggap remeh. Udara kering dan berdebu yang menyertai fenomena bediding dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, flu, hingga iritasi saluran pernapasan. Daya tahan tubuh pun berpotensi menurun. Sementara itu, suhu tinggi pada siang hari meningkatkan risiko dehidrasi dan heat stroke, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Selain ancaman kesehatan, BPBD juga mengingatkan potensi kebakaran lahan dan permukiman. Vegetasi yang mengering, suhu udara tinggi, dan hembusan angin kencang membuat api mudah membesar jika dipicu kelalaian. Iswari mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, serta memastikan instalasi listrik rumah dalam kondisi aman.
Kesiapsiagaan BPBD Yogyakarta ini menjadi pengingat bagi daerah lain di Indonesia yang juga berpotensi mengalami dampak serupa. Dengan musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang dari normal, koordinasi antara pemerintah daerah, BMKG, dan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan korban. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah daerah lain sudah menyiapkan langkah antisipasi setara?



