Gempa Kembar Venezuela Tewaskan 4.118 Orang, Krisis Kemanusiaan Makin Dalam
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Venezuela mengonfirmasi korban tewas akibat dua gempa berturut-turut pada 24 Juni telah melampaui 4.000 jiwa, dengan lebih dari 16.700 luka-luka.
- Negara yang sedang dilanda krisis ekonomi parah ini kini harus menghadapi tantangan rekonstruksi besar-besaran, sementara PBB meminta dana darurat hampir 300 juta dolar AS.
- Pemerintah transisi Venezuela mendesak pencairan aset beku di luar negeri, termasuk 30 ton emas di Inggris, untuk mendanai pemulihan.

Gempa bumi kembar yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni lalu telah menewaskan sedikitnya 4.118 orang, menurut data resmi yang dirilis Jumat (10/7). Bencana ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah negara Amerika Latin tersebut, dengan 16.740 korban luka dan ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.
Dua gempa terjadi hanya berselang 39 detik—yang pertama berkekuatan 7,2 magnitudo, disusul guncangan 7,5 magnitudo yang merupakan gempa terbesar di Venezuela dalam lebih dari satu abad. Guncangan dahsyat itu meratakan seluruh distrik di negara bagian La Guaira, termasuk gedung-gedung apartemen bertingkat yang runtuh menjadi tumpukan puing.
Tim penyelamat telah menghentikan pencarian korban selamat, namun anggota keluarga masih terus meraba reruntuhan untuk menemukan jenazah kerabat mereka. “Kami hanya ingin menguburkan mereka dengan layak,” ujar seorang warga setempat kepada media. Sementara itu, gempa susulan berkekuatan 3,0 magnitudo di pusat kota Caracas pada Jumat lalu semat memicu kepanikan dan evakuasi gedung-gedung perkantoran.
Skala pemulihan yang dihadapi Venezuela sangatlah raksasa, terlebih kondisi layanan publik negara itu sudah terdegradasi parah akibat krisis ekonomi berkepanjangan. Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu lalu mengeluarkan seruan darurat untuk menggalang dana hampir 300 juta dolar AS guna mendukung operasi bantuan gempa. Dana tersebut akan digunakan untuk menyediakan tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, dan logistik bagi para pengungsi.
Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez, mendesak agar aset-aset negara yang dibekukan di luar negeri segera dicairkan untuk membiayai rekonstruksi. Pada Rabu lalu, ia mengaku telah meminta Raja Charles III untuk melepaskan sekitar 30 ton emas Venezuela yang disita di bawah sanksi Inggris. Langkah ini menuai perdebatan, mengingat sanksi tersebut diterapkan sebagai tekanan politik terhadap pemerintahan Nicolas Maduro yang kontroversial.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa besar, terutama di daerah rawan seismik. Indonesia sendiri terletak di Cincin Api Pasifik dan kerap dilanda gempa destruktif. Pelajaran dari Venezuela—di mana respons darurat terhambat oleh krisis ekonomi dan politik—menyoroti betapa rentannya suatu negara jika infrastruktur penanggulangan bencana tidak didukung oleh tata kelola yang stabil. Pertanyaannya, akankah komunitas internasional bergerak cepat membantu Venezuela, atau justru terbentur oleh kepentingan geopolitik yang rumit?



