Kemenkes Kaji RS Provinsi Papua Pegunungan: Jawaban atas Kesenjangan Layanan Kesehatan di Timur Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Kesehatan memulai studi kelayakan pembangunan Rumah Sakit Provinsi Papua Pegunungan di Wamena, yang akan menjadi pusat rujukan bagi delapan kabupaten.
- Saat ini, fasilitas kesehatan di wilayah itu hanya mampu menangani 70-75% kasus medis, sementara 20-25% kasus kompleks memerlukan layanan spesialis yang belum tersedia.
- Proyek ini merupakan bagian dari strategi nasional pemerataan layanan kesehatan, dengan koordinasi erat antara pemerintah pusat dan daerah sebagai kunci keberhasilan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memulai kajian kelayakan pembangunan Rumah Sakit (RS) Provinsi Papua Pegunungan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, sebagai langkah strategis mengatasi ketimpangan akses layanan kesehatan di kawasan timur Indonesia. Tanpa rumah sakit milik provinsi, delapan kabupaten di wilayah itu selama ini bergantung pada fasilitas kesehatan tingkat kabupaten yang terbatas kemampuannya.
Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes, Obrin Parulian, mengungkapkan bahwa rumah sakit yang ada saat ini hanya mampu menangani 70 hingga 75 persen kasus medis. Sisanya, sekitar 20โ25 persen kasus dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi, memerlukan penanganan lanjutan yang belum tersedia secara memadai. โKami membutuhkan rumah sakit provinsi yang dapat menjadi pusat rujukan, terutama untuk kasus-kasus yang memerlukan fasilitas modern dan tenaga medis spesialis,โ ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Antara, Sabtu (11/7).
Ketimpangan layanan kesehatan di Papua Pegunungan bukanlah persoalan baru. Wilayah yang dimekarkan dari Provinsi Papua pada 2022 ini memiliki tantangan geografis yang ekstrem, dengan medan pegunungan dan akses transportasi yang terbatas. Kondisi ini membuat pasien dengan penyakit serius sering kali harus dirujuk ke kota besar seperti Jayapura atau bahkan ke luar Papua, yang memakan waktu dan biaya tinggi. Kehadiran RS provinsi di Wamena diharapkan memangkas rantai rujukan dan mempercepat penanganan medis.
Rencana pembangunan RS provinsi ini tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga menyangkut tata kelola dan kesiapan sumber daya manusia. Obrin menekankan pentingnya koordinasi erat dengan pemerintah daerah agar rumah sakit yang dibangun nantinya dapat dikelola secara efektif. โKoordinasi yang erat dengan pemerintah daerah sangat penting untuk memastikan rumah sakit ini dapat dikelola secara efektif setelah pembangunannya selesai,โ katanya. Hal ini menjadi kunci karena pengalaman di beberapa daerah menunjukkan bahwa rumah sakit yang dibangun tanpa perencanaan operasional yang matang kerap menghadapi masalah seperti kekurangan tenaga medis atau pembiayaan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, proyek ini merupakan bagian dari agenda besar pemerataan layanan kesehatan di wilayah timur yang selama ini tertinggal. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran khusus untuk pembangunan fasilitas kesehatan di Papua melalui skema Dana Otonomi Khusus (Otsus) dan APBN. Namun, tantangan seperti ketersediaan tenaga dokter spesialis, logistik obat, dan pemeliharaan alat medis masih menjadi pekerjaan rumah. Studi kelayakan yang dilakukan Kemenkes diharapkan tidak hanya mengukur aspek teknis pembangunan, tetapi juga memetakan kebutuhan jangka panjang, termasuk pola rujukan antarwilayah dan pengembangan kapasitas SDM lokal.
Keberhasilan proyek ini akan menjadi tolok ukur bagi upaya serupa di daerah terpencil lainnya. Jika RS Provinsi Papua Pegunungan mampu beroperasi optimal, maka akan terbuka peluang untuk mempercepat pembangunan rumah sakit provinsi di wilayah lain yang belum memilikinya, seperti Papua Selatan dan Papua Tengah. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: seberapa cepat studi kelayakan ini dapat diselesaikan, dan apakah komitmen pendanaan serta koordinasi lintas lembaga mampu berjalan sesuai jadwal? Jawabannya akan menentukan apakah masyarakat Papua Pegunungan segera mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak, atau harus menunggu lebih lama lagi.



