Kontroversi Spidercam Warnai Kekalahan Norwegia dari Inggris di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Norwegia kecewa setelah gol penyeimbang Jude Bellingham tidak dianulir meski bola diduga menyentuh kabel spidercam.
- FIFA mengandalkan sensor chip bola yang tidak mendeteksi adanya sentuhan, namun bukti visual memicu perdebatan.
- Insiden ini menambah daftar kontroversi penggunaan teknologi Snicko di turnamen, setelah sebelumnya mempengaruhi laga Portugal vs Kroasia.

Kekalahan dramatis Norwegia dari Inggris di perempat final Piala Dunia 2026 tidak hanya menyisakan kekecewaan karena harus tersingkir, tetapi juga memicu perdebatan sengit mengenai keputusan wasit yang dinilai kontroversial. Gol penyeimbang Jude Bellingham pada menit ke-45+2 menjadi pusat kemarahan kubu Norwegia yang yakin bola telah menyentuh kabel spidercam sebelum akhirnya berujung gol.
Dalam laga yang berlangsung di Miami, Inggris tertinggal lebih dulu lewat gol Andreas Schjelderup. Namun, saat injury time babak pertama, umpan tendangan gawang kiper Norwegia Orjan Nyland melambung tinggi mendekati kabel spidercam yang menggantung di atas lapangan. Bola kemudian jatuh ke kaki Elliot Anderson, yang mengirim umpan ke Anthony Gordon, dan akhirnya diselesaikan dengan tenang oleh Bellingham. Para pemain Norwegia langsung memprotes wasit Clement Turpin, namun gol tetap disahkan.
FIFA kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa sensor chip di dalam bola tidak mendeteksi adanya perubahan gerakan yang mengindikasikan sentuhan terhadap kabel. Teknologi yang kerap disebut 'Snicko' ini, yang lazim digunakan dalam kriket, mengukur getaran bola untuk mendeteksi kontak. Namun, pelatih Norwegia Stale Solbakken meragukan keakuratan teknologi tersebut. "Bola jatuh lurus dari langit, kata semua orangโtermasuk kiper dan pemain yang akan menerima bola. Saya pikir cukup jelas bola itu menyentuh kabel. Ini aneh," ujarnya seperti dikutip BBC.
Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi di turnamen ini. Sebelumnya, teknologi Snicko juga menjadi sorotan saat laga Portugal melawan Kroasia di babak 32 besar, di mana gol penyeimbang Kroasia dianulir karena dianggap terjadi offside tipis setelah bola menyentuh pemain Igor Matanovic. Keputusan itu memperpanjang 'tarian terakhir' Cristiano Ronaldo, tetapi mengakhiri perlawanan Luka Modric. Kini, kontroversi serupa kembali memanaskan diskusi tentang keandalan teknologi dalam sepak bola.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengakui bahwa timnya beruntung di momen-momen krusial. "Saya tidak bilang kami beruntung menang, tapi kami beruntung di momen-momen yang menentukan," katanya. Sementara itu, gelandang Norwegia Sander Berge menyebut keputusan wasit sebagai 'konyol' dan menyesalkan margin tipis yang menentukan hasil akhir. "Skor 2-1 berbicara sendiriโada margin kecil dan kami tahu ke mana arahnya," ucap pemain Fulham tersebut.
Bagi Indonesia, kontroversi ini menjadi pengingat bahwa teknologi VAR dan sensor bola, meski canggih, masih menyisakan ruang interpretasi. Di tengah rencana implementasi VAR di Liga Indonesia, kasus seperti ini menegaskan pentingnya pelatihan wasit dan sosialisasi teknologi agar keputusan kontroversial dapat diminimalkan. Ke depan, FIFA mungkin perlu mengevaluasi ulang penggunaan spidercam dan sensor chip untuk menghindari polemik serupa, terutama di momen-momen krusial turnamen besar.



