Piala Dunia 2026 di Kansas City: Ribuan Suporter Global Ubah Wajah Kota
Baca dalam 60 detik
- Kansas City sukses menjadi tuan rumah enam laga Piala Dunia 2026, termasuk babak 16 besar dan perempat final, dengan lebih dari 310.000 pengunjung dari 150 negara.
- Gelombang suporter Belanda (Oranje Fanwalk) mencatat rekor kehadiran terbesar di AS, sementara pendukung Aljazair, Argentina, dan Kolombia memadati pusat kota.
- Panitia lokal menilai ajang ini membuktikan kapasitas kota sebagai destinasi bisnis dan investasi global, membuka peluang bagi Indonesia untuk belajar dari pengalaman penyelenggaraan mega-event.

Kansas City menutup perhelatan Piala Dunia 2026 dengan catatan gemilang: lebih dari 310.000 suporter dari 150 negara memadati stadion dan zona penggemar, mengubah kota di Midwest Amerika itu menjadi panggung global selama sebulan penuh. Perempat final Argentina vs Swiss di Stadion Arrowhead menjadi puncak dari enam pertandingan yang digelar di venue berkapasitas 76.000 kursi tersebut.
Penyelenggara lokal, KC 2026, mencatat bahwa kedatangan ribuan pendukung dari berbagai benua tidak hanya memeriahkan pertandingan, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Clark Hunt, ketua kehormatan KC 2026 sekaligus pemilik Kansas City Chiefs, menyebut momen ini sebagai kesempatan langka bagi kota untuk bersinar di panggung internasional. "Melihat penggemar dari seluruh dunia datang ke Kansas City untuk mendukung tim mereka sungguh luar biasa," ujarnya.
Gelombang oranye dari suporter Belanda menjadi pemandangan paling ikonik. Sebanyak 36.000 orang berpartisipasi dalam "Oranje Fanwalk" yang melintasi jalan-jalan utama kota, menjadikannya aksi suporter Belanda terbesar di Amerika Serikat. Sementara itu, pendukung Aljazair membanjiri Lawrence, Kansas, tempat tim Afrika Utara itu bermarkas. Atmosfer karnaval tercipta di pusat kota, dengan musik, tarian, dan atribut tim bercampur dalam harmoni multikultural.
Bagi Indonesia, pengalaman Kansas City menawarkan pelajaran berharga. Negara ini tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 (yang sempat batal) dan berambisi menyelenggarakan event FIFA di masa depan. Keberhasilan Kansas City mengelola kerumunan besar, menyediakan infrastruktur pendukung, serta mengintegrasikan budaya lokal dengan keramahtamahan global dapat menjadi referensi. Pam Kramer, CEO KC 2026, menekankan bahwa Piala Dunia telah membuktikan kota ini mampu menangani kompetisi olahraga terbesar di dunia sekaligus mempromosikan diri sebagai tujuan investasi dan bisnis.
Pengaruh sosial dari ajang ini juga terasa. Nate Bukaty, komentator sepak bola dan penulis, menyoroti semangat kebersamaan yang tercipta. "Segala sesuatu yang saya cintai dari sepak bola hadir di sini selama sebulan terakhir. Lebih dari sekadar olahraga, saya akan merindukan momen koneksi antarmanusia ini," katanya. Ia menambahkan bahwa keraguan warga tentang bagaimana dunia akan memandang kota mereka terjawab sudah: "Dunia ternyata siap untuk Kansas City."
Pertanyaan kini mengemuka: akankah kesuksesan ini membuka jalan bagi kota-kota di Asia, termasuk Indonesia, untuk dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia di masa depan? Dengan pengalaman Kansas City sebagai bukti bahwa kota non-ibukota pun mampu menyelenggarakan mega-event, peluang bagi Indonesia untuk menggelar turnamen FIFA semakin terbuka lebar.



