Siamang Kian Dekat dengan Manusia: Antara Wisata, Ancaman, dan Upaya Konservasi
Baca dalam 60 detik
- Kebiasaan memberi makan siamang di kawasan wisata seperti Danau Toba dan Puncak Geurutee mengubah perilaku alami primata tersebut, meningkatkan risiko konflik dan perburuan.
- Populasi siamang di Sumatera diperkirakan hanya sekitar 22.000 ekor, namun data akurat masih kurang karena belum ada survei terpadu; kajian daftar merah nasional tengah dilakukan.
- Para pegiat konservasi menekankan bahwa cara terbaik melindungi siamang adalah dengan tidak memberi makan atau mendekati mereka, melainkan membiarkan mereka tetap liar di habitat aslinya.

Di tepi Danau Toba dan tebing Puncak Geurutee, pemandangan siamang yang turun dari pohon untuk meminta pisang kepada wisatawan kini bukan hal langka. Namun di balik kelucuan yang terekam dalam video-video media sosial, para pegiat konservasi melihat ancaman serius: naluri liar primata itu perlahan luntur, membuat mereka rentan terhadap kecelakaan, perburuan, dan perdagangan ilegal.
Abdul Rahman Manik, atau Detim Manik, adalah penjaga kawasan Monkey Forest Sibaganding di Simalungun, Sumatera Utara. Ia mewarisi tradisi keluarganya sejak 1984 untuk merawat hutan kecil tersebut. Namun ketika mengambil alih pada 2013, ia mendapati kawanan primata—termasuk beruk, kera ekor panjang, siamang, dan kiak-kiak—telah terbiasa turun ke jalan raya, mengemis makanan dari pengendara. "Keinginan saya, tidak ada lagi primata mengemis di jalan," ujarnya. Ia pun mulai memberi makan secara konsisten di dalam hutan, sekitar 30 sisir pisang per hari, dan membatasi waktu kunjungan wisatawan agar primata kembali mencari pakan alami.
Di Puncak Geurutee, Aceh, Abdullah, pemilik warung di tepi jurang, juga menjadi saksi kedekatan tak biasa. Sekelompok siamang—sepasang induk dan anak-anaknya—datang hampir setiap hari ke warungnya. Namun ia pernah kehilangan tiga anak siamang yang dicuri saat warung kosong. "Dulu siamang yang sepasang itu sudah memiliki beberapa anak, sekarang tersisa hanya dua," katanya. Perburuan dan pencurian menjadi ancaman nyata bagi satwa yang sudah kehilangan rasa takut pada manusia.
Rahayu Oktaviani, pendiri Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara, mengingatkan bahwa siamang bukan monyet melainkan kera kecil (Hylobatidae) tanpa ekor. Populasi siamang di Sumatera diperkirakan sekitar 22.000 ekor berdasarkan data IUCN 2020, namun angka itu masih estimasi kasar. "Belum ada survei terpadu yang mencakup seluruh sebaran siamang di Sumatera," jelasnya. Kabar baiknya, pada Maret-April 2026, Indonesian Species Specialist Group (IDSSG) bersama Kementerian Kehutanan mengumpulkan lebih dari 60 praktisi untuk mengkaji status konservasi sembilan jenis kera kecil, termasuk siamang. Ini menjadi momentum untuk menyusun data yang lebih akurat.
Menurut Ayu, kebiasaan memberi makan siamang di tempat wisata—yang sering dianggap lucu—justru memicu masalah. "Ketika siamang terbiasa diberi makan manusia, mereka perlahan kehilangan naluri liarnya. Mereka tidak lagi menganggap manusia sebagai ancaman," ujarnya. Akibatnya, siamang lebih sering turun ke jalan, berisiko tertabrak kendaraan, tersengat kabel listrik, atau menjadi sasaran pemburu. Media sosial pun ikut memperparah: konten siamang jinak memicu keinginan orang untuk memelihara, sehingga perdagangan ilegal meningkat. "Untuk setiap bayi siamang yang sampai ke tangan pembeli, paling tidak ada satu induk mati," tegas Ayu.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa interaksi manusia-satwa liar di kawasan wisata bukan sekadar atraksi. Pemerintah daerah dan pengelola destinasi perlu mengatur batasan interaksi, seperti yang dilakukan Detim dengan membatasi jam kunjungan. Lebih penting lagi, masyarakat perlu diedukasi bahwa mencintai satwa liar tidak berarti memberi makan atau menyentuh mereka. "Kalau benar sayang satwa liar, biarkan mereka tetap liar," pesan Ayu.
Ke depan, keberhasilan konservasi siamang bergantung pada kolaborasi data, penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal, dan perubahan perilaku wisatawan. Akankah suara siamang di hutan Sumatera tetap menggema sebagai tanda hutan yang utuh, atau hanya akan terdengar di warung-warung pinggir jalan? Jawabannya ada pada kesadaran kita bersama.



