Roket Reusable Jepang Sukses Uji Terbang Perdana, Saingi Dominasi SpaceX
Baca dalam 60 detik
- JAXA berhasil menguji prototipe roket yang dapat digunakan kembali dengan penerbangan singkat setinggi 10 meter di Noshiro, Jepang.
- Keberhasilan ini menjadi langkah strategis dalam menekan biaya peluncuran antariksa, yang selama ini dikuasai oleh Falcon 9 milik SpaceX.
- China juga mencatat pencapaian serupa sehari sebelumnya, menandai persaingan ketat di Asia dalam teknologi roket murah.

Badan antariksa Jepang, JAXA, mencatat tonggak baru dalam perlombaan teknologi roket murah setelah prototipe roket yang dapat digunakan kembali berhasil lepas landas dan mendarat dalam uji coba pertamanya. Uji terbang yang berlangsung di lokasi pengujian Noshiro, Prefektur Akita, pada Senin (12/7/2026) itu hanya berdurasi sekitar 40 detik, namun membawa arti penting bagi masa depan eksplorasi antariksa yang lebih efisien.
Prototipe tersebut melesat hingga ketinggian sekitar 10 meter sebelum kembali ke permukaan dengan selamat. Kepala tim peluncuran, Takashi Ito, mengungkapkan rasa lega setelah bertahun-tahun persiapan. โKami telah mencurahkan banyak waktu dan tenaga. Melihat roket lepas landas dan mendarat tanpa masalah, saya merasa sangat lega,โ ujarnya kepada wartawan. Meski demikian, JAXA masih akan meninjau data secara menyeluruh untuk memastikan tingkat keberhasilan uji coba. Ito optimistis data yang terkumpul sangat berharga untuk pengembangan selanjutnya.
Uji coba Jepang ini menjadi bagian dari upaya global untuk menekan biaya akses ke luar angkasa. Selama ini, roket konvensional dirancang untuk sekali pakai, dengan komponen tahap pertama yang paling mahal terbuang sia-sia setelah misi. Teknologi roket yang dapat digunakan kembali, seperti yang dikembangkan SpaceX dengan Falcon 9, telah mengubah paradigma industri antariksa dengan memangkas biaya peluncuran secara signifikan. Jepang, melalui JAXA, ingin mengejar ketertinggalan dengan mengembangkan prototipe sendiri.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara yang mulai aktif dalam program antariksa, seperti pengembangan satelit dan rencana peluncuran roket pengorbit, efisiensi biaya peluncuran menjadi krusial. Jika teknologi reusable semakin matang, Indonesia bisa mengakses layanan peluncuran dengan harga lebih terjangkau, baik dari Jepang, China, maupun SpaceX. Namun, persaingan ketat antarnegara produsen juga berarti Indonesia harus cermat memilih mitra strategis agar tidak tertinggal dalam penguasaan teknologi.
Langkah JAXA juga menunjukkan bahwa Asia kini menjadi arena baru persaingan antariksa. China, yang sehari sebelumnya berhasil mendaratkan roket reusable pertamanya, jelas ingin menantang dominasi Amerika Serikat yang selama ini dipegang SpaceX. Jepang, dengan pengalaman panjang dalam teknologi roket, tidak ingin ketinggalan. Bagi pengamat, uji coba ini adalah sinyal bahwa era roket murah akan segera menjadi milik banyak negara, bukan hanya segelintir pemain.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat JAXA dapat menyempurnakan prototipe ini menjadi roket operasional. Dengan data yang terkumpul, agensi antariksa Jepang diperkirakan akan melanjutkan uji terbang dengan ketinggian dan durasi yang lebih besar. Apakah Jepang mampu mengejar ketertinggalan dari SpaceX dan China? Atau justru kolaborasi regional, termasuk dengan Indonesia, bisa menjadi jawaban untuk mempercepat penguasaan teknologi ini? Waktu yang akan menjawab.



