Kobaran Api di Andalusia Padam, 12 Tewas Terjebak di Kendaraan
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan di Spanyol selatan menewaskan 12 orang, sebagian besar warga asing, setelah api melanda kawasan pemukiman dengan kecepatan 100 meter per menit.
- Kondisi angin dan kelembapan yang membaik memungkinkan petugas pemadam mulai mengendalikan api yang telah membakar 6.600 hektare lahan.
- Peristiwa ini memicu peringatan akan dampak perubahan iklim yang memperparah kebakaran hutan, relevan dengan ancaman serupa di Indonesia.

Petugas pemadam kebakaran di Spanyol selatan akhirnya berhasil mengendalikan kobaran api yang telah merenggut 12 jiwa dan memporak-porandakan desa Bedar, setelah angin mereda dan kelembapan udara meningkat pada Sabtu (11/7). Wilayah yang hangus seluas 6.600 hektare itu masih menyisakan pemandangan suram: rumah-rumah hangus, vegetasi gosong, dan jalan-jalan sepi yang dijaga ketat polisi.
Kebakaran yang dipicu oleh putusnya kabel listrik di tengah gelombang panas ekstremโsuhu menembus 40 derajat Celsiusโmenyebar dengan kecepatan luar biasa, mencapai 100 meter per menit. Menteri Kehakiman Spanyol, Felix Bolanos, menyebut intensitas dan keganasan api kali ini belum pernah terjadi sebelumnya. "Ini jelas merupakan konsekuensi dari darurat iklim yang dihadapi dunia," ujarnya di lokasi kejadian.
Sebanyak 500 petugas pemadam dengan dukungan lebih dari 20 pesawat pemadam air dikerahkan untuk menjinakkan api yang mulai berkobar pada Kamis lalu di kawasan Gallardos, Andalusia. Kawasan ini dikenal sebagai tempat tinggal banyak warga asing, terutama dari Inggris dan Prancis. Delapan korban luka masih dirawat di rumah sakit, empat di antaranya di unit luka bakar.
Kisah dramatis datang dari Jerome Navarro, warga Prancis yang kehilangan istrinya saat api mendekat. "Saya berkata pada istri saya: 'Cepat keluar, tinggalkan semuanya. Keluar.' Dan dalam waktu yang saya butuhkan untuk mengucapkan itu, saya sudah terbungkus bola api," tuturnya dalam wawancara dengan televisi Prancis. Ia selamat dengan menceburkan diri ke parit, namun sang istri masih hilang hingga berita ini diturunkan.
Pejabat setempat mengakui bahwa sebagian korban tidak mengikuti perintah evakuasi atau berlindung di tempat aman saat api mendekat. Manoli Ramos, anggota dewan desa Bedar yang berusia 72 tahun, menggambarkan situasi saat itu: "Kami sangat ketakutan. Kami bisa melihat apinya. Itu mengerikan. Seperti neraka." Desa Bedar, yang biasanya putih bersih, kini nyaris menjadi kota hantu.
Kebakaran ini menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Spanyol. Perdana Menteri Pedro Sanchez dijadwalkan mengunjungi lokasi bencana pada Senin. Sementara itu, Kepala Darurat Pemerintah Andalusia, Antonio Sanz, mengatakan bahwa pencarian korban masih terus dilakukan, meskipun belum ditemukan korban tambahan. Ia juga mengklarifikasi bahwa angka 23 orang hilang yang beredar adalah keliru; hanya tujuh laporan resmi orang hilang yang telah diajukan.
Para ilmuwan sepakat bahwa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia membuat gelombang panas ekstrem semakin sering dan intens. Musim dingin dan semi yang basah mendorong pertumbuhan vegetasi lebat, yang kemudian mengering akibat gelombang panas berturut-turut, menyediakan bahan bakar melimpah bagi api. Fenomena ini mengingatkan pada risiko kebakaran hutan di Indonesia, terutama di lahan gambut dan kawasan kering saat musim kemarau.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya memperparah kebakaran di kawasan Mediterania, tetapi juga meningkatkan ancaman serupa di tanah air. Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan kerap dipicu oleh praktik pembukaan lahan dan cuaca ekstrem. Langkah mitigasi seperti pengelolaan lahan gambut, sistem peringatan dini, dan penegakan hukum menjadi krusial untuk mencegah tragedi serupa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: sejauh mana negara-negara siap menghadapi musim kebakaran yang semakin ganas? Spanyol masih berjuang mengendalikan api, sementara Indonesia harus belajar dari pengalaman ini untuk memperkuat kesiapsiagaan.



