Messi di Piala Dunia 2026: Berjalan 47% Waktu, Tapi Tetap Mendominasi
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi mencatatkan persentase berjalan tertinggi di antara pemain lapangan Piala Dunia 2026, mencapai 47% dari total jarak tempuhnya.
- Meski kecepatan dan jumlah sprint menurun drastis, kontribusi gol dan assist Messi tetap tinggi, memecahkan rekor sejak Diego Maradona.
- Evolusi gaya bermain Messi dari winger menjadi false nine hingga playmaker dalam menunjukkan adaptasi brilian di usia 39 tahun.

Lionel Messi kembali menjadi pusat perhatian di Piala Dunia 2026, bukan hanya karena usianya yang sudah 39 tahun, tetapi karena cara bermainnya yang berubah drastis: ia berjalan hampir separuh waktu di lapangan, namun tetap menjadi ancaman paling mematikan bagi lawan. Argentina, yang berambisi menjadi negara pertama sejak 1962 yang mempertahankan gelar juara dunia, sangat bergantung pada sang kapten yang telah mencetak delapan gol dan tiga assist di turnamen ini.
Data statistik menunjukkan transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Messi mencatatkan 47% dari total jarak tempuhnya dengan berjalan—persentase tertinggi di antara semua pemain lapangan. Rata-rata jarak tempuhnya per 90 menit hanya 8,2 kilometer, terendah di skuad Argentina yang bermain lebih dari 20 menit. Jumlah sprint per laga juga merosot dari 5,3 pada 2022 menjadi hanya 2,7 di edisi kali ini. Namun, ia tetap menghasilkan 33 tembakan dan 21 peluang, total 54 kontribusi ofensif—terbanyak sejak Diego Maradona pada 1986.
Bagi pengamat sepak bola, angka-angka ini bukanlah tanda kemunduran, melainkan bukti kecerdasan adaptif. Messi tidak lagi menjadi pemain yang berlari tanpa henti seperti saat debutnya di Barcelona pada 2003. Ia telah berevolusi setidaknya lima kali sepanjang kariernya: dari winger kanan yang lincah, menjadi false nine di bawah Pep Guardiola, kemudian playmaker dalam (enganche) setelah kepergian Xavi dan Iniesta, hingga kini sebagai veteran yang membaca permainan lebih cepat dari siapa pun. "Saya belajar banyak tentang ruang, penguasaan bola, dan cara kerja permainan dari Guardiola," ujar Messi dalam wawancara dengan Juan Pablo Varsky pada 2024.
Perjalanan Messi bersama tim nasional Argentina juga penuh liku. Tiga kekalahan beruntun di final (2014, 2015, 2016) sempat membuatnya frustrasi hingga sempat pensiun. Namun, ia kembali dengan mentalitas baru. Kemenangan di Copa America 2021 dan Piala Dunia 2022 menjadi titik balik. Di semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris, Messi akan kembali menjadi sorotan. Dalam 15 penampilan terakhirnya di Piala Dunia, ia selalu mencetak gol atau assist kecuali saat melawan Polandia.
Bagi Indonesia, kisah Messi menawarkan pelajaran tentang adaptasi dan umur panjang di level tertinggi. Di tengah gempuran pemain muda dengan kecepatan dan fisik prima, Messi membuktikan bahwa kecerdasan taktis dan efisiensi energi bisa menjadi senjata utama. Gaya bermainnya yang semakin "berjalan" justru memungkinkannya untuk tetap dominan di usia yang lazimnya menjadi masa pensiun. Pertanyaannya, akankah Inggris mampu memecahkan teka-teki Messi yang telah beradaptasi berkali-kali ini?
Messi sendiri mengakui bahwa sepak bola modern berubah drastis. "Permainan sekarang jauh lebih taktis dan fisik. Sebelumnya, ada lebih banyak ruang," katanya kepada Zinedine Zidane pada 2023. Namun, ia telah membuktikan bahwa dirinya bisa unggul di tiga era taktis berbeda: era fisik Porto dan Chelsea, era penguasaan bola posisional, dan era transisi cepat pasca-Guardiola. Kini, dengan langkah yang lebih lambat namun pandangan yang lebih tajam, Messi terus menulis ulang batas-batas kemungkinan dalam sepak bola.



