Tapir Dilindungi Dibunuh di Mesuji: Kepala Dipenggal, Daging Diolah Jadi Rica-Rica
Baca dalam 60 detik
- Seekor tapir asia yang muncul di Jalan Lintas Sumatera, Lampung, ditemukan tewas dengan kepala dipenggal dan daging dibagikan ke warga; polisi menangkap empat tersangka.
- Peristiwa ini memicu kecaman dari akademisi dan pegiat konservasi, yang menilai konflik satwa liar dengan manusia semakin parah akibat perluasan lahan pertanian dan permukiman.
- Populasi tapir asia di Sumatera diperkirakan tersisa kurang dari 500 individu, dan fragmentasi habitat menjadi ancaman utama bagi kelangsungan spesies ini.

Seekor tapir asia (Tapirus indicus) yang terlihat kebingungan di Jalan Lintas Sumatera, Lampung, pada Kamis sore (2/7/26), berakhir tragis: satwa dilindungi itu ditemukan mati dengan kepala dipenggal, sementara dagingnya dibagikan kepada warga dan sebagian dimasak rica-rica. Peristiwa di kawasan Register 45, Mesuji, ini menjadi bukti betapa rentannya spesies langka tersebut terhadap ulah manusia.
Video berdurasi 42 detik yang viral memperlihatkan tapir mondar-mandir di tengah jalan, dikelilingi warga yang berusaha menghalaunya. Di akhir rekaman, seorang pria bertelanjang dada terlihat berlari membawa tombak ke arah satwa tersebut. Aparat yang tiba di lokasi beberapa jam kemudian hanya menemukan bangkai tanpa kepala. Polisi telah menangkap empat dari enam tersangka; dua lainnya masih dalam pengejaran.
Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) melalui ketuanya, Budi Setiadi Daryono, mengecam keras pembunuhan ini. “Tapirus indicus dilindungi penuh oleh undang-undang. Tindakan ini adalah pelanggaran hukum dan kemunduran bagi konservasi keanekaragaman hayati,” ujarnya, Rabu (8/7/26). Kementerian Kehutanan juga menyatakan keprihatinan, menegaskan bahwa hilangnya satu individu tapir merupakan kerugian besar bagi ekosistem.
Peneliti Ahli Madya BRIN, M. Ikhsan Shiddieqy, menawarkan perspektif berbeda. Menurutnya, istilah “hewan masuk ke wilayah manusia” adalah keliru. “Pertanian, perkebunan, dan permukiman terus meluas tanpa mempertimbangkan kebutuhan satwa liar. Akibatnya, ruang hidup mereka terpecah dan konflik meningkat,” tulisnya di The Conversation, Kamis (9/7/26).
Tapir asia memainkan peran ekologis vital sebagai penyebar biji melalui kotorannya, membantu regenerasi hutan dan menjaga keanekaragaman tumbuhan. Kebiasaannya berkubang di sungai atau rawa juga membantu menjaga jalur air tetap terbuka. Namun, peran ini sering luput dari perhatian dibandingkan satwa karismatik seperti harimau atau gajah.
Penelitian terbaru berjudul “Safeguarding Asian tapir habitat in Sumatra, Indonesia” yang dimuat di jurnal Oryx (4 Juni 2024) mengungkap bahwa tapir asia tercatat di 143 dari 456 stasiun kamera pantau di sembilan lanskap Sumatera. Sebagian besar deteksi terkonsentrasi di dekat sungai besar, kurang dari 12 km dari jalan, dan di dataran rendah di bawah 600 meter. Hutan Bukit Barisan diidentifikasi sebagai habitat paling cocok bagi spesies ini.
Irene M.R. Pinondang, mewakili tim peneliti, menekankan bahwa hutan Sumatera sangat penting bagi konservasi tapir asia. Namun, upaya konservasi terhambat oleh kurangnya informasi tentang kesesuaian habitat. Tim peneliti merekomendasikan penggabungan pengelolaan tapir dengan spesies terkenal seperti harimau dan gajah untuk memaksimalkan prospek jangka panjang.
Bagi Indonesia, tragedi di Mesuji ini menjadi pengingat pahit bahwa konflik manusia-satwa liar tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan. Diperlukan pendekatan komprehensif: penguatan penegakan hukum, edukasi publik, dan yang terpenting, pengelolaan tata ruang yang mengakomodasi kebutuhan satwa liar. Pertanyaan yang tersisa: akankah kasus ini mendorong perubahan kebijakan yang berarti, atau hanya menjadi catatan kaki lain dalam daftar panjang kepunahan spesies di negeri ini?



