Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz: Lalu Lintas Tanker Melambat, Pasokan Minyak Dunia Terancam
Baca dalam 60 detik
- Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz menurun drastis setelah serangan balasan AS dan Iran pekan ini, mengancam pemulihan pasokan minyak global.
- Serangan terhadap tiga kapal tanker Qatar dan Saudi memicu pernyataan Trump bahwa gencatan senjata 'berakhir', meskipun negosiasi teknis disebut masih berlangsung.
- Indonesia, sebagai importir minyak, berpotensi terdampak lonjakan harga BBM dan gangguan rantai pasok jika konflik berkepanjangan.

Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur energi paling vital dunia, mulai melambat pada Jumat (10/7) setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan militer pekan ini. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap pemulihan pasokan minyak global yang sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Dalam sepekan terakhir, Washington dan Teheran kembali terlibat bentrokan langsung. AS menuduh pasukan Iran menyerang tiga kapal tanker milik Qatar dan Saudi di perairan Selat Hormuz. Sebagai balasan, militer AS menghantam puluhan target militer Iran di pesisir selatan dan provinsi timur negara itu. Iran kemudian membalas dengan menyerang instalasi militer AS di sejumlah negara Teluk pada Kamis (9/7).
Sebelum gelombang serangan ini, rata-rata 40 kapal tanker melintasi Selat Hormuz setiap hariโangka tertinggi sejak perang dimulai. Namun, jumlah itu masih jauh di bawah rata-rata sebelum konflik, yakni 125 hingga 140 kapal per hari. Selat Hormuz sebelumnya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah pada Februari lalu.
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pasokan minyak global naik 4,1 juta barel per hari (bph) pada Juni seiring dibukanya kembali jalur pelayaran di selat tersebut. Meski demikian, pasokan masih 9,4 juta bph di bawah level sebelum perang. IEA juga memperingatkan ketatnya pasokan solar dan bensin, serta lambatnya respons kilang terhadap pembukaan kembali selat dibandingkan harga minyak mentah.
Diplomasi yang rapuh menjadi sorotan. Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan gencatan senjata 'berakhir' setelah serangan terhadap kapal tanker. Namun, seorang pejabat AS kemudian mengatakan Washington tetap berkomitmen mencari solusi dengan Iran dan 'pembicaraan teknis terus berlangsung'. The New York Times melaporkan bahwa Qatar tengah menjembatani negosiasi antara Washington dan Teheran untuk meredakan ketegangan.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global. Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik dapat mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri dan memperburuk tekanan inflasi. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok dan menyiapkan langkah-langkah stabilisasi harga.
Di tengah ketegangan, Iran pada Kamis memakamkan pemimpin tertingginya yang tewas, Ayatullah Ali Khamenei, di tempat suci di Mashhad. Khamenei gugur dalam serangan udara pada hari pertama perang, 28 Februari, yang merupakan bagian dari rentetan serangan AS-Israel terhadap Iran. Putranya, Mojtaba Khamenei, yang terluka dalam serangan yang sama, belum muncul di publik. Upacara belasungkawa dijadwalkan di Qom setelah salat Magrib.
Ketidakmampuan Trump mengakhiri perang disebut-sebut membuatnya frustrasi, terlebih partainya menghadapi pemilu paruh waktu di tengah tingginya harga BBM dan ketidakpuasan pemilih. Sementara itu, Komando Pusat AS mengklaim telah menghantam sekitar 90 target militer Iran, yang menurut media Iran menewaskan 14 orang dan melukai 78 lainnya. Iran membalas dengan menyerang sistem Patriot AS di Kuwait, situs peringatan dini di Qatar, depot bahan bakar di Bahrain, dan meluncurkan 10 rudal balistik ke pangkalan militer Azraq di Yordania.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah negosiasi yang dijembatani Qatar meredakan ketegangan sebelum konflik benar-benar lepas kendali? Atau justru serangan balasan berikutnya akan menutup total Selat Hormuz dan memicu krisis energi global yang lebih dalam?



