Topan Bavi Hantam Taiwan dan China: 900.000 Jiwa Mengungsi, Puluhan Tewas
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi memaksa evakuasi massal di China timur dan Taiwan, dengan lebih dari 900.000 orang meninggalkan rumah mereka.
- Badai ini telah menewaskan sedikitnya 39 orang di China selatan dan tengah, serta menyebabkan banjir dan kerusakan infrastruktur.
- Fenomena El Nino dan suhu laut yang memanas memperkuat intensitas topan, meningkatkan risiko cuaca ekstrem di kawasan.

Topan Bavi menerjang Taiwan dan Jepang bagian barat daya pada Sabtu (11/7), memicu evakuasi massal di China timur dan meninggalkan jejak kerusakan di sejumlah wilayah. Lebih dari 900.000 jiwa telah mengungsi di China, sementara ribuan rumah di Taiwan dan Okinawa kehilangan aliran listrik.
Di China, pemerintah kota Wenzhou, Zhejiang, melaporkan 887.801 orang telah dievakuasi hingga Jumat malam. Topan diperkirakan mencapai daratan pada Minggu pagi di sekitar Wenzhou, kota metropolitan berpenduduk hampir 10 juta jiwa. Otoritas setempat menyatakan mobilisasi penuh dilakukan untuk mengantisipasi skenario terburuk, termasuk memperkuat bangunan dengan kayu dan lakban. Sementara itu, lebih dari 100.000 orang di utara China juga dievakuasi akibat hujan deras yang memicu peningkatan debit air dari Waduk Miyun.
Di Taiwan, lebih dari 14.000 orang mengungsi, ratusan penerbangan dibatalkan, dan 170.000 rumah tangga mengalami pemadaman listrik. Jalanan di Kota Keelung, salah satu daerah yang diperkirakan paling parah terdampak, tampak sepi. Seorang pemilik kedai sarapan bernama Tsai (50) tetap nekat keluar untuk mengantar pesanan karena khawatir petugas yang bertugas tidak mendapat makanan. Namun, tidak semua warga panik. Beberapa pemilik usaha di Keelung mengeluhkan peringatan dini yang dianggap berlebihan, karena angin dan hujan dinilai tidak separah yang dikhawatirkan.
Topan Bavi sebelumnya menerjang Guam dan Kepulauan Mariana Utara sebagai super topan, namun melemah menjadi topan biasa saat melintasi Samudra Pasifik. Kecepatan angin maksimumnya turun menjadi 137 km/jam dengan hembusan hingga 173 km/jam. Badan Cuaca Pusat Taiwan (CWA) memperingatkan hujan sangat deras di utara Taiwan dan gelombang berbahaya setinggi 10 meter di sepanjang pantai.
Di Filipina, jumlah korban tewas akibat tanah longsor dan insiden lain yang dipicu hujan lebat mencapai 18 orang, sebagian besar di Pulau Mindanao. Hampir 11.000 orang mengungsi dan puluhan pelabuhan ditutup. Sementara di Jepang, lebih dari 18.000 rumah tangga di Okinawa kehilangan listrik, dengan wilayah Miyako paling parah terdampak. Maskapai Jepang membatalkan puluhan penerbangan, mempengaruhi lebih dari 26.000 penumpang.
Fenomena iklim global turut memperkuat intensitas topan. Layanan Kelautan Copernicus Uni Eropa mencatat suhu laut pada Juni mencapai rekor tertinggi, yang membantu topan menyerap lebih banyak kelembaban dan memperkuat curah hujan. Selain itu, kembalinya El Nino tahun ini, yang memanaskan permukaan laut Pasifik, semakin memperparah kondisi. Menurut peramal CWA Jason Cheng, Topan Bavi semula diperkirakan menjadi topan terbesar yang menerjang Taiwan dalam 30 tahun terakhir, namun radius angin kencangnya menyusut menjadi 350 km.
Bagi Indonesia, meskipun tidak langsung terdampak, fenomena ini menjadi pengingat akan meningkatnya risiko cuaca ekstrem di kawasan. Suhu laut yang memanas dan pola El Nino dapat mempengaruhi musim hujan dan potensi siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia. Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang kian tidak menentu.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah cukup siap menghadapi intensitas badai yang semakin kuat akibat perubahan iklim? Tanpa adaptasi yang memadai, kerugian jiwa dan materi diprediksi akan terus meningkat.



