Anak Krakatau Erupsi Beruntun: Status Siaga, Radius Aman 3 Km
Baca dalam 60 detik
- Empat letusan berturut-turut terjadi Jumat sore dengan kolom abu mencapai 250 meter.
- PVMBG mempertahankan status Siaga Level III dan melarang aktivitas dalam radius 3 km.
- Pemantauan intensif terus dilakukan; masyarakat diminta waspada dan tidak percaya hoaks.

Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik yang meningkat dengan serangkaian erupsi pada Jumat (10/7) sore, memicu kewaspadaan otoritas geologi dan masyarakat di sekitarnya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat empat kali letusan dalam rentang waktu sekitar satu jam, mulai pukul 16.42 WIB hingga 17.51 WIB. Kolom abu vulkanik terpantau membumbung setinggi 100 hingga 250 meter di atas puncak, berwarna hitam pekat dengan intensitas tebal, dan bergerak ke arah utara, timur laut, serta barat laut. Getaran erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 43โ55,2 milimeter dan durasi 33โ49 detik.
Meskipun rangkaian letusan itu tergolong deras, status GAK masih bertahan di Level III (Siaga). Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Andi Suwardi, menegaskan bahwa aktivitas vulkanik saat ini fluktuatif namun belum menunjukkan eskalasi yang mengharuskan peningkatan status. "Status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III (Siaga)," ujarnya dalam keterangan resmi Jumat kemarin.
Pada Sabtu (11/7) pagi, pengamatan visual menunjukkan puncak gunung tertutup kabut, namun asap kawah utama masih terlihat berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal, menjulang 20โ50 meter dari puncak. Cuaca cerah dengan angin lemah ke arah barat laut dan ombak laut tenang hingga sedang turut mendukung pemantauan. Aktivitas kegempaan yang terekam meliputi empat gempa hembusan, empat gempa frekuensi rendah, lima gempa hybrid, dan satu tremor menerusโmenandakan sistem magmatik yang masih aktif.
Kepada masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki, PVMBG mengimbau untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer. Imbauan ini menjadi krusial mengingat letusan tiba-tiba dapat terjadi tanpa peringatan panjang. Selain itu, otoritas meminta publik hanya merujuk pada informasi resmi dari PVMBG dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi.
Secara historis, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api yang sangat aktif dan pernah memicu tsunami Selat Sunda pada Desember 2018 akibat longsoran lereng saat erupsi. Meskipun saat ini aktivitas belum mengarah ke skenario serupa, pemantauan terus diperketat. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah rangkaian erupsi ini merupakan bagian dari siklus normal atau awal dari fase erupsi yang lebih besarโjawabannya hanya bisa diperoleh dari data seismik dan deformasi yang terus dianalisis oleh para ahli.



