SpaceX Raup Rp 450 Triliun dari AI Darat, Mimpi Orbital Masih Jauh
Baca dalam 60 detik
- Kontrak komputasi AI darat SpaceX dengan Anthropic dan Google diperkirakan menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari 28 miliar dolar AS, melampaui bisnis peluncuran dan Starlink.
- Analis menilai pusat data orbital baru akan merealisasikan dampak signifikan dalam satu dekade, bergantung pada kesiapan roket Starship dan penurunan biaya peluncuran.
- Investasi SpaceX di infrastruktur AI darat mencapai 18 miliar dolar AS pada 2025, jauh melampaui belanja di sektor antariksa dan konektivitas.

Meskipun Elon Musk kerap menggembar-gemborkan masa depan di mana kecerdasan buatan (AI) berpusat di luar angkasa, analis Wall Street justru melihat nilai jangka pendek SpaceX masih bertumpu pada Bumi. Perusahaan tersebut kini gencar membangun infrastruktur komputasi darat yang menjadi tulang punggung ledakan AI global.
Penyedia infrastruktur, terutama pusat data, diprediksi menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari adopsi AI yang masif. Mulai dari pengodean perangkat lunak, robotika, hingga aktivitas sehari-hari seperti belanja dan perencanaan, semuanya membutuhkan daya komputasi raksasa. SpaceX, melalui fasilitas Colossus dan Colossus II, telah mengamankan kontrak dengan perusahaan seperti Anthropic, Google, dan Reflection AI. Berdasarkan analisis dokumen perusahaan oleh Reuters, pendapatan tahunan dari kontrak-kontrak ini diperkirakan melampaui 28 miliar dolar ASโangka yang jauh di atas proyeksi pendapatan AI SpaceX tahun 2025 yang hanya sekitar 3,2 miliar dolar AS, dan bahkan melebihi pendapatan dari bisnis peluncuran serta Starlink secara individual.
Namun, para analis mengingatkan bahwa kontrak tersebut mengandung klausul penghentian, sehingga tidak bisa dianggap sebagai pendapatan berulang yang pasti. Meski demikian, investasi SpaceX di bidang AI pada 2025 mencapai hampir 18 miliar dolar AS, dengan rincian 12,7 miliar dolar AS untuk belanja modal dan 5,1 miliar dolar AS untuk riset dan pengembangan. Jumlah itu jauh melampaui pengeluaran untuk bisnis antariksa dan konektivitas.
Anthony Milovantsev, mitra konsultan Altman Solon, menilai narasi bahwa pusat data orbital akan menggusur pusat data darat masih terlalu dibesar-besarkan. "Perpindahan signifikan dari pusat data darat ke luar angkasa masih butuh waktu lebih dari sepuluh tahun," ujarnya. Senada dengan itu, analis BofA menyebut viabilitas jangka panjang pusat data orbital masih belum terbukti dan sangat bergantung pada pencapaian tonggak teknologi yang belum sepenuhnya terealisasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi strategis. Sebagai negara dengan ekosistem digital yang tumbuh pesat, kebutuhan akan pusat data dan komputasi awan terus meningkat. Jika SpaceX berhasil menekan biaya komputasi orbital, bukan tidak mungkin layanan tersebut suatu hari bisa menjangkau pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun, dalam jangka pendek, dominasi infrastruktur darat berarti persaingan penyedia layanan cloud dan pusat data di dalam negeri akan semakin ketat. Pemerintah Indonesia perlu mencermati tren ini untuk merumuskan kebijakan yang mendorong investasi pusat data lokal sekaligus bersiap menghadapi potensi disruptif dari teknologi orbital di masa depan.
Mayoritas pialang yang meliput SpaceX pasca-IPO memperlakukan AI orbital sebagai peluang jangka panjang, sementara proyeksi keuangan jangka pendek mereka bertumpu pada infrastruktur AI darat. Keberhasilan Starship mencapai reusabilitas cepat, penurunan biaya peluncuran, dan kemajuan teknik satelit menjadi prasyarat utama. Pertanyaan yang kini mengemuka bukan lagi apakah SpaceX mampu membangun dan memonetisasi infrastruktur AI, melainkan seberapa cepat perusahaan dapat mengubah peluang itu menjadi bisnis yang layak di luar atmosfer Bumi.



