29 Provinsi Thailand Terendam Banjir, Gelombang Andaman Capai 4 Meter Akibat Monsun dan Siklon Bavi
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras melanda 29 provinsi Thailand, dengan gelombang laut di Andaman atas diperkirakan melebihi empat meter saat badai petir.
- Cuaca ekstrem dipicu oleh tekanan rendah di Vietnam utara dan monsun barat daya yang menguat, bukan oleh Topan Bavi yang bergerak menuju China timur.
- Peringatan dikeluarkan bagi penduduk di kaki bukit dan dataran rendah untuk waspada banjir bandang serta limpasan hutan, sementara pelancong diminta memantau prakiraan cuaca.

Bangkok โ Thailand menghadapi ancaman cuaca ekstrem setelah 29 provinsi ditetapkan sebagai zona rawan banjir, sementara gelombang di Laut Andaman bagian utara diprediksi menembus empat meter saat badai petir melanda. Badan Meteorologi Thailand mengumumkan peningkatan curah hujan signifikan dalam periode 24 jam mulai Sabtu (11/7) pukul 06.00 hingga Minggu (12/7) pukul 06.00 waktu setempat.
Menurut peringatan resmi, badai petir diperkirakan meliputi 60 persen wilayah Bangkok dan sejumlah daerah lainnya. Hujan lebat diprediksi mengguyur sebagian wilayah utara, timur laut atas, timur, serta pesisir barat selatan Thailand. Kondisi ini dipicu oleh tekanan rendah yang berada di atas Vietnam utara dan penguatan monsun barat daya yang menyelimuti Laut Andaman, Thailand, dan Teluk Thailand.
Penduduk di daerah terdampak diminta waspada terhadap akumulasi curah hujan tinggi yang berpotensi memicu banjir bandang, limpasan air hutan, serta meluapnya saluran air. Badan meteorologi menekankan bahwa risiko terbesar berada di komunitas kaki bukit dekat aliran sungai dan di dataran rendah yang rentan genangan cepat.
Sementara itu, Topan Bavi yang berada di Samudra Pasifik timur laut Taiwan diperkirakan akan mencapai daratan China timur antara 11 dan 12 Juli. Badan meteorologi memastikan badai tersebut tidak akan memasuki Thailand atau secara langsung memengaruhi negara itu. Meski demikian, para pelancong yang menuju daerah di jalur topan diimbau untuk memeriksa kondisi cuaca sebelum berangkat.
Bagi Indonesia, fenomena cuaca ini menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim yang meningkatkan intensitas monsun dan siklon tropis di Asia Tenggara. Meski Topan Bavi tidak langsung mengancam Nusantara, pola tekanan rendah yang sama dapat memengaruhi musim hujan di Indonesia, terutama di wilayah barat yang berbatasan dengan Samudra Hindia. Masyarakat pesisir dan petani diharapkan mewaspadai potensi cuaca ekstrem dalam beberapa pekan mendatang.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah seberapa sering pola cuaca seperti ini akan terjadi seiring pemanasan global. Para ahli meteorologi memperkirakan frekuensi dan intensitas badai di kawasan Asia Tenggara akan terus meningkat, menuntut kesiapsiagaan yang lebih baik dari pemerintah dan masyarakat.



