Paris Jackson: Musik Jadi Penyelamat di Masa Kelam Sebelum Sadar Diri
Baca dalam 60 detik
- Paris Jackson mengakui musik menjadi satu-satunya terapi yang membantunya melewati masa-masa sulit sebelum mencapai ketenangan enam tahun lalu.
- Putri Michael Jackson ini sempat menekan hasrat bermusik karena takut, namun akhirnya menyadari bahwa musik adalah tujuan hidup utamanya.
- Selain musik, panjat tebing, fotografi, dan pertemanan turut membantunya pulih dari kecanduan alkohol dan narkoba.

Musik bukan sekadar hiburan bagi Paris Jackson—ia adalah tali kehidupan yang menahannya tetap bertahan di tengah pusaran kecanduan. Kini, setelah enam tahun hidup sadar, penyanyi berusia 28 tahun itu mengungkapkan bahwa melodi dan lirik menjadi satu-satunya pelarian yang membantunya melewati masa-masa tergelap sebelum ia memutuskan untuk berhenti dari alkohol dan narkoba.
Dalam wawancara dengan Vogue Beauty Secrets, Paris mengaku bahwa sejak kecil ia sudah menggenggam gitar, namun baru di usia 20-an ia berani menjadikan musik sebagai jalan hidup. “Aku sangat takut memulai karier musik karena sejak 13 atau 14 tahun aku sudah bermain gitar, tapi selalu kuanggap sekadar hobi,” katanya. “Akhirnya aku sadar, ini satu-satunya yang membuatku bahagia.”
Perjalanan menuju pemulihan tidaklah mudah. Paris mengakui bahwa dirinya pernah menjadi pribadi yang pendendam saat di bawah pengaruh alkohol. Dalam podcast Trying Not To Die bersama Jack Osbourne, ia menceritakan bagaimana minuman keras menghilangkan kompas moral yang selama ini ia pegang. “Aku dibesarkan untuk menjadi baik hati, bukan sekadar sopan. Tapi saat minum, semua itu lenyap. Aku berubah menjadi orang yang sangat pendendam,” ujarnya.
Selain musik, Paris menemukan pelipur lara dalam panjat tebing, fotografi, dan lingkaran pertemanan yang suportif. Aktivitas-aktivitas ini membantunya melewati masa-masa sulit yang ia sebut sebagai “rough patches”. Ia juga mengingat tanda-tanda awal kecanduan yang sudah muncul sejak kecil, seperti kebiasaan menyakiti diri sendiri dan hubungan tidak sehat dengan makanan. “Ada energi meraih-gapai yang hanya kulihat pada pecandu lain—mencari sesuatu di luar diri sendiri,” kenangnya.
Kisah Paris Jackson mengingatkan pada fenomena serupa di Indonesia, di mana tekanan hidup dan stigma sosial seringkali membuat penderita kecanduan enggan mencari bantuan. Padahal, seperti yang dialami Paris, dukungan dari hobi dan komunitas bisa menjadi langkah awal menuju pemulihan. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Juwita, menilai bahwa pendekatan holistik—menggabungkan terapi medis dengan aktivitas kreatif—terbukti efektif dalam menangani adiksi. “Musik, olahraga, atau seni bisa menjadi saluran ekspresi yang aman dan membantu pasien membangun kembali identitas positif,” ujarnya.
Paris juga menekankan pentingnya kebaikan hati—bukan sekadar sopan santun—dalam interaksi sehari-hari. Ia mengaku bahwa kecanduan sempat membuatnya kehilangan kemampuan untuk memperlakukan orang lain dengan hormat. Kini, ia berusaha kembali ke akar nilai-nilai yang diajarkan keluarganya. “Menatap mata pelayan, menanyakan namanya, menuliskannya di struk—hal-hal kecil seperti itu menunjukkan bagaimana kita memperlakukan sesama,” katanya.
Ke depannya, Paris berencana terus berkarya di industri musik sambil menjaga keseimbangan hidup. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah ia mempertahankan ketenangan di tengah sorotan publik yang kerap menguji? Bagi banyak penggemar di Indonesia, perjalanannya menjadi pengingat bahwa pemulihan adalah proses panjang yang membutuhkan keberanian untuk terus melangkah, satu nada demi satu.



