Lizzo Buka Suara: Lagu Sedih Album Baru Terinspirasi Patah Hati karena Sahabat, Bukan Tuntutan Hukum
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Lizzo mengungkap bahwa lagu-lagu melankolis di album terbarunya 'Bitch' terinspirasi oleh perpisahan dengan sahabat dekat, bukan oleh gugatan hukum dari mantan penari.
- Dalam wawancara dengan The Guardian, Lizzo mengaku bingung dengan sikap mantan temannya yang tiba-tiba menjelekkan namanya di media sosial setelah sebelumnya menunjukkan kasih sayang.
- Album yang gagal secara komersial ini menandai pergeseran nada dari karya sebelumnya, dengan Lizzo mengakui bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan dengan cepat.

Lizzo, penyanyi di balik hit 'Good as Hell', mengungkapkan bahwa lagu-lagu sedih di album terbarunya, 'Bitch', bukanlah respons terhadap tuntutan hukum dari tiga mantan penarinya, melainkan berasal dari peristiwa yang jauh lebih personal: perpisahan dengan seorang sahabat karib. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia menegaskan bahwa publik keliru jika mengaitkan lirik-lirik pilu tersebut dengan kasus pelecehan yang menjeratnya.
Pelantun 'About Damn Time' itu menjelaskan bahwa sebagian besar lagu melankolis di album tersebut terinspirasi oleh perpecahan dengan seorang teman yang tidak pernah terekspos ke publik. "Apa yang orang tidak tahu adalah bahwa sebagian besar lagu sedih di album ini tentang perpisahan pertemanan yang sama sekali tidak publik," katanya. Ia mencontohkan lagu 'Like a Crime' yang liriknya berbunyi "Menghancurkan hatiku dan mencuri hidupku". Menurut Lizzo, lagu itu ditujukan untuk seorang teman yang pernah ia pekerjakan dan percayai, namun ternyata bersikap kasar dan berbohong tentang dirinya.
Lizzo, yang bernama asli Melissa Jefferson, mengaku sangat bingung dengan perubahan sikap mantan sahabatnya. "Terakhir kali kami bicara, dia bilang 'Aku memikirkanmu, aku sayang kamu, aku harap semuanya baik-baik saja'. Lalu setahun kemudian dia muncul di internet membicarakan betapa buruknya aku. Aku sangat bingung karena kupikir kami baik-baik saja," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman itu merupakan salah satu perpisahan pertemanan paling menyakitkan yang pernah ia alami. Ketika ditanya apakah mantan teman itu adalah salah satu penari yang menggugatnya, Lizzo menjawab tegas, "Bukan. Orang ini tidak punya tuntutan hukum; mereka hanya ikut-ikutan dalam gelombang kebencian."
Album 'Bitch' sendiri mendapat sambutan yang berbeda dari karya-karya sebelumnya. Lizzo mengakui bahwa nadanya lebih gelap dan tidak memberikan resolusi yang biasa ia hadirkan. "Di album ini, tidak ada penyelesaian. Tidak ada 'Tapi aku akan baik-baik saja' yang lembut, karena kadang kenyataannya tidak seperti itu. Kadang kamu tidak baik-baik saja untuk waktu yang lama," jelasnya. Pernyataan ini kontras dengan album-album sebelumnya yang selalu menyelipkan optimisme di tengah kesedihan.
Di sisi lain, penyanyi berusia 38 tahun itu juga mengakui adanya jurang pemisah yang semakin lebar antara persona publik dan pribadinya. Ia mengaku sengaja menempatkan 'Lizzo' di depan untuk melindungi 'Melissa'. "Lizzo bisa pergi ke luar sana, melakukan wawancara dengan pewawancara tajam, tampil di panggung, dan menjadi troll di Twitter. Tapi Melissa perlu dilindungi. Gadis yang ingin semua orang bahagia, yang hanya ingin membantu, dengan hati dan niat murni, dia perlu dilindungi," tutupnya.
Bagi penggemar di Indonesia, pengakuan Lizzo ini memberikan perspektif baru tentang tekanan yang dihadapi selebritas di bawah sorotan publik. Kasus ini juga mengingatkan bahwa di balik gemerlap panggung, ada sisi rentan yang seringkali tersembunyi. Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah Lizzo mampu mempertahankan batas antara persona publik dan pribadinya di tengah industri hiburan yang terus menuntut keterbukaan?



