Ibu di Bangladesh Akui Bunuh Anak Kelas 10: Kasus Kekerasan dalam Keluarga Mengguncang Khulna
Baca dalam 60 detik
- Seorang ibu di Bangladesh mengaku di hadapan hakim telah membunuh putrinya yang masih duduk di bangku kelas 10.
- Polisi menangkap ayah korban untuk diperiksa, setelah sebelumnya keluarga menuding suami korban sebagai pelaku.
- Kasus ini menyoroti tingginya angka kekerasan domestik di Asia Selatan dan pentingnya perlindungan anak.

Seorang ibu di Bangladesh mengaku di hadapan hakim telah membunuh putrinya yang masih duduk di bangku kelas 10, membalikkan dugaan awal keluarga yang menuding suami korban sebagai pelaku. Pengakuan mengejutkan ini terungkap dalam sidang di Pengadilan Metropolitan Khulna, Jumat (10/7) malam, dan langsung mengubah arah penyelidikan polisi.
Seema Akter, 40 tahun, ibu dari Arfan Hossain Nirjana (17), memberikan pernyataan pengakuan di hadapan Hakim Ibrahim Khalil Muhim berdasarkan Pasal 164 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Bangladesh. Kepala Polsek Khulna Sadar, Md Shofiqul Islam, mengonfirmasi bahwa Seema mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan anaknya. "Setelah pengakuan itu, pengadilan memerintahkan penahanannya di penjara," ujar Islam.
Kasus ini bermula ketika jasad Nirjana ditemukan dalam karung plastik di depan gedung berlantai tujuh di kawasan perumahan Prantika, Nirala, Khulna Sadar, Rabu (8/7) malam sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Polisi kemudian membawa jenazah ke kamar mayat Rumah Sakit Umum Khulna Medical College untuk diautopsi. Keesokan harinya, setelah melihat foto jasad yang beredar di media sosial, Seema mendatangi rumah sakit dan mengidentifikasi korban sebagai putrinya.
Awalnya, keluarga Nirjana mengklaim bahwa ia mungkin dibunuh oleh suaminya, karena Nirjana baru menikah pada 21 April tahun ini. Namun, seiring penyelidikan, polisi mulai curiga terhadap anggota keluarga lain. Analisis rekaman kamera pengawas (CCTV) dari lokasi kejadian, bukti forensik, hasil otopsi, dan barang bukti lainnya mengarahkan penyidik untuk memeriksa kedua orang tua korban. "Informasi baru muncul setelah kami mengumpulkan dan menganalisis semua bukti," kata sumber penyelidikan.
Kepala Polsek Islam menambahkan bahwa penyidik awalnya meyakini Nirjana dibunuh di tempat lain sebelum jasadnya dimasukkan ke dalam karung dan dibuang. Motif pembunuhan masih belum jelas, dan polisi terus mendalami semua kemungkinan. "Penyelidikan masih berlangsung, semua aspek kasus sedang diperiksa untuk mengungkap keadaan sebenarnya di balik pembunuhan ini," ujarnya.
Kasus ini mengingatkan pada tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga di Bangladesh dan kawasan Asia Selatan. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 50% perempuan di Bangladesh pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual dari pasangan. Namun, kasus di mana ibu menjadi pelaku pembunuhan anak kandung masih relatif jarang dan menimbulkan pertanyaan serius tentang dinamika keluarga serta kesehatan mental.
Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi, meskipun tidak lazim. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa kekerasan terhadap anak seringkali dilakukan oleh orang terdekat, termasuk orang tua. Kasus di Khulna ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas, dan deteksi dini terhadap potensi kekerasan dalam keluarga sangat penting.
Polisi Bangladesh kini masih menahan ayah korban untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Pertanyaan besar yang tersisa: apa yang mendorong seorang ibu tega menghabisi nyawa anaknya sendiri? Penyelidikan lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap motif di balik tragedi ini, sekaligus memberikan keadilan bagi Nirjana.



