Menjelang Pensiun di Usia 50 Tahun, Berapa Dana yang Harus Terkumpul?
Baca dalam 60 detik
- Fidelity merekomendasikan tabungan setara enam kali pendapatan tahunan pada usia 50 tahun sebagai target pensiun ideal.
- Kebutuhan dana pensiun bersifat personal, tergantung pada usia pensiun, gaya hidup, dan lokasi tempat tinggal.
- Bagi yang tertinggal, opsi realistis meliputi pengetatan anggaran, investasi konservatif, atau bekerja paruh waktu di masa pensiun.

Usia 50 tahun menjadi titik evaluasi krusial bagi setiap pekerja yang ingin memastikan masa pensiun berjalan tanpa tekanan finansial. Pada tahap ini, para ahli keuangan sepakat bahwa seseorang idealnya sudah memiliki tabungan setara enam kali lipat pendapatan tahunan terakhirnya. Angka ini bukan sekadar rekomendasi, melainkan patokan minimal yang disarankan oleh Fidelity, penyedia rencana pensiun global, bagi mereka yang menargetkan pensiun di usia 67 tahun.
Sebagai gambaran, jika pendapatan bersih tahunan seseorang mencapai Rp100 juta, maka tabungan yang harus terkumpul pada usia 50 tahun adalah sekitar Rp600 juta. Namun, angka ini bukanlah harga mati. Nathan Sebesta, perencana keuangan bersertifikat dari Access Wealth Strategies, menegaskan bahwa kebutuhan dana pensiun sangat bergantung pada preferensi pribadi. "Jumlah tabungan yang dibutuhkan bergantung pada kapan Anda ingin pensiun, berapa besar pengeluaran di masa pensiun, dan di mana Anda tinggal," ujarnya.
Di Indonesia, tantangan mencapai target ini semakin nyata mengingat tingkat inflasi dan biaya hidup yang terus meningkat. Banyak pekerja di sektor formal maupun informal belum memiliki perencanaan pensiun yang matang. Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah, terutama dalam hal investasi jangka panjang. Hal ini membuat target tabungan enam kali pendapatan tahunan terasa berat, apalagi bagi mereka yang baru mulai menabung di usia 40-an.
Bagi yang merasa posisi keuangannya masih jauh dari target, Sebesta menyarankan untuk segera melakukan penyesuaian. Langkah pertama adalah menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun. Selain itu, alokasi investasi perlu digeser ke instrumen yang lebih konservatif, seperti deposito atau obligasi pemerintah, untuk melindungi nilai pokok aset dari fluktuasi pasar. "Fokuskan sisa waktu produktif sekitar 10 hingga 15 tahun ke depan untuk mengambil langkah pengetatan ikat pinggang," kata Sebesta.
Jika penyesuaian tersebut belum cukup, opsi terakhir yang realistis adalah tetap bekerja secara paruh waktu atau membangun bisnis kecil setelah pensiun. Meskipun bukan impian banyak orang, Sebesta menilai ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang terlambat memulai perencanaan. "Tidak ada yang bermimpi harus tetap bekerja saat pensiun. Namun, bagi yang terlambat memulai dan tak bisa mengejar ketertinggalan, ini bisa jadi satu-satunya pilihan realistis," pungkasnya.
Ke depan, pertanyaan yang perlu dijawab adalah: sejauh mana kesadaran masyarakat Indonesia untuk mulai merencanakan pensiun sejak dini? Tanpa perencanaan yang matang, target tabungan di usia 50 tahun hanya akan menjadi angan-angan, dan risiko finansial di hari tua semakin membesar.



