Harga Beras Jepang Anjlok ke Level Terendah Sejak Akhir 2024, Pasokan Melimpah
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata harga beras per 5 kg di supermarket Jepang turun di bawah 3.500 yen untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, mencerminkan kelebihan pasokan di pasar.
- Stok beras sektor swasta per akhir Mei mencapai 2,23 juta ton, melonjak 51% dibanding tahun lalu, jauh di atas batas ideal 1,8–2 juta ton.
- Penurunan harga dipicu oleh akumulasi stok akibat peralihan permintaan ke beras impor dan stok pemerintah, menjelang panen baru.

Harga beras di Jepang terus merosot. Data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (MAFF) pada Jumat (11/7) menunjukkan rata-rata harga beras per lima kilogram di sekitar 1.000 supermarket nasional mencapai 3.458 yen (sekitar Rp360.000), turun 96 yen dari pekan sebelumnya. Ini adalah kali pertama harga berada di bawah 3.500 yen sejak pekan terakhir Desember 2024.
Penurunan terjadi untuk pekan kedua berturut-turut. Untuk beras bermerek, harga rata-rata tercatat 3.521 yen, lebih rendah 87 yen. Pejabat MAFF menduga percepatan pembuangan stok terjadi karena "kedatangan beras hasil panen baru sudah dekat."
Fenomena ini berbanding terbalik dengan krisis pasokan yang melanda Jepang pada musim panas 2024. Saat itu, gelombang panas ekstrem menekan produksi musim sebelumnya, menyebabkan beras menghilang dari rak-rak toko dan harga melonjak dari sekitar 2.000 yen menjadi lebih dari 4.000 yen per lima kilogram. Pemerintah pun melepas beras cadangan untuk menekan harga.
Namun, kebijakan itu justru memicu efek samping. Permintaan bergeser ke beras cadangan pemerintah dan beras impor yang lebih murah, menyebabkan stok di sektor swasta menumpuk. MAFF mencatat stok swasta per akhir Mei mencapai 2,23 juta ton—melonjak 51% dibanding tahun sebelumnya. Meski angka itu tidak mencakup stok pedagang kecil dan petani, jumlahnya sudah melampaui batas ideal 1,8–2 juta ton.
Bagi Indonesia, dinamika harga beras Jepang menjadi pengingat pentingnya manajemen stok pangan. Di tengah ancaman El Nino dan fluktuasi produksi domestik, kebijakan intervensi pasar seperti pelepasan cadangan beras harus diimbangi dengan antisipasi kelebihan pasokan. Jepang kini menghadapi situasi di mana stok membengkak sementara harga jatuh, merugikan petani dan pedagang. "Ini pelajaran bahwa intervensi darurat perlu diikuti strategi penyerapan stok jangka panjang," ujar analis pertanian dari Universitas Tokyo, Takeshi Yamada, dalam sebuah forum daring.
Ke depan, MAFF memperkirakan harga akan terus tertekan seiring masuknya panen baru. Pertanyaannya, apakah pemerintah Jepang akan kembali melakukan intervensi—kali ini untuk menopang harga—atau membiarkan mekanisme pasar bekerja? Keputusan itu akan menentukan nasib petani beras Negeri Sakura di tengah perubahan iklim yang kian tak menentu.



