Polisi India Tangkap Puluhan Pelaku Kerusuhan Usai Pemerkosaan dan Pembunuhan Bocah 11 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Polisi India menangkap 35 orang terkait kerusuhan setelah jenazah bocah 11 tahun ditemukan di kolam, dengan satu warga tewas dihakimi massa.
- Seorang tersangka pemerkosaan dan pembunuhan tewas ditembak saat mencoba kabur dari polisi, sementara ibunya menolak menerima jenazah.
- Kasus ini kembali memicu perdebatan tentang keamanan perempuan di India, terutama di Benggala Barat yang pernah menjadi sorotan global pada 2024.

Polisi India menangkap puluhan orang yang terlibat dalam aksi kekerasan dan perusakan saat unjuk rasa menuntut keadilan atas pemerkosaan dan pembunuhan seorang bocah perempuan berusia 11 tahun di Benggala Barat. Peristiwa yang terjadi awal pekan ini memicu kemarahan publik dan kembali menyoroti persoalan keamanan perempuan di negara bagian tersebut.
Jenazah korban ditemukan di sebuah kolam pada 5 Juli, sehari setelah ia dilaporkan hilang di kawasan Baruipur, sekitar 30 kilometer dari Kolkata. Sejak saat itu, massa yang marah memblokade jalan dan membakar kendaraan. Dalam kerusuhan tersebut, seorang warga yang tidak bersalah dilaporkan tewas dihakimi massa. Kepolisian setempat menyatakan telah mengamankan 35 orang dan masih terus mengidentifikasi pelaku lain melalui rekaman video yang viral di media sosial.
“Kami telah menangkap 35 orang sejauh ini terkait kekerasan dan perusakan. Pelaku lainnya sedang diidentifikasi melalui beberapa video yang beredar luas,” ujar perwira senior kepolisian negara bagian Arvind Kumar Anand kepada Reuters.
Dalam perkembangan terpisah, polisi menembak mati salah satu dari empat tersangka pemerkosaan dan pembunuhan bocah tersebut. Tersangka bernama Prabhas Mondal ditembak pada dini hari 8 Juli saat mencoba melarikan diri ketika dibawa ke tempat kejadian perkara untuk rekonstruksi. Ibu Mondal menolak menerima jenazah anaknya dan menyatakan tidak ingin membawanya pulang karena “tidak melakukan hal baik”. “Dosa yang dilakukan anak saya, ia telah menerima hukumannya,” katanya dalam wawancara televisi.
Media India melaporkan bahwa keluarga salah satu tersangka lain mengklaim anaknya tidak bersalah dan ditangkap karena kesalahan identitas. Belum ada pernyataan dari keluarga dua tersangka lainnya.
Kepala Menteri Benggala Barat Suvendu Adhikari, yang menjabat setelah Partai Bharatiya Janata pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi memenangi pemilu negara bagian pada Mei, menegaskan tidak akan memberikan keringanan bagi pelaku kejahatan pemerkosaan dan kekerasan. “Pemerintah baru ini akan mengejar para kriminal hingga batas hukum dan memastikan keadilan ditegakkan,” tulisnya di platform X pada 9 Juli.
Kasus ini kembali mengemukakan kekhawatiran tentang keselamatan perempuan dan anak perempuan di India, meskipun undang-undang yang lebih keras telah diberlakukan pasca pemerkosaan dan pembunuhan seorang perempuan 22 tahun di Delhi pada 2012 yang memicu demonstrasi nasional. Empat pria yang dihukum dalam kasus tersebut telah dieksekusi mati.
Bagi Indonesia, kasus serupa juga menjadi perhatian. Data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mencatat ribuan kasus kekerasan seksual setiap tahun, dan publik kerap meluapkan kemarahan melalui aksi protes. Kasus di India ini menjadi pengingat bahwa penegakan hukum yang tegas dan perubahan budaya masih menjadi pekerjaan rumah bersama di kawasan Asia.
Ke depan, pemerintah Benggala Barat diuji kemampuannya untuk menangani kasus ini secara transparan dan mencegah terulangnya kekerasan massa. Apakah janji “tidak ada keringanan” dari kepala daerah akan benar-benar dijalankan, ataukah kasus ini hanya akan menjadi catatan lain dalam panjangnya daftar kekerasan terhadap perempuan di India?



