Dua IPO Anyar JELI dan BACH Ambruk, Investor Mulai Cermat Membaca Laporan Keuangan
Baca dalam 60 detik
- Saham JELI dan BACH kompak tertekan aksi jual pada Jumat (10/7) setelah euforia IPO meredup, dengan JELI anjlok 14,8% ke ARB dan BACH turun hampir 10%.
- Fundamental JELI dipertanyakan: pendapatan tiga tahun berturut-turut menurun, arus kas operasi ambruk 83%, dan valuasi PER 31-39 kali jauh di atas rata-rata sektor.
- BACH menghadapi risiko likuiditas ekstrem (cash ratio 2%), ketergantungan pada Grup Djarum, dan overhang kepemilikan akibat opsi pembelian saham oleh GTP.

Euforia pasar perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai meredup. Dua emiten yang baru melantai pada pekan pertama Juli 2026, PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH), kompak terperosok dalam tekanan jual yang cukup dalam pada perdagangan Jumat (10/7/2026). Saham JELI ambrol 14,81% ke level Rp1.495 dan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), sementara BACH rontok hampir 10% ke Rp500. Kondisi ini kontras dengan dua emiten lain yang justru melesat, menandakan bahwa investor mulai lebih jeli memilah kualitas fundamental di balik hiruk-pikuk IPO.
JELI, produsen makanan ringan bermerek INACO, resmi mencatatkan sahamnya pada 7 Juli 2026 dengan harga IPO Rp900 per saham. Dalam aksi korporasi itu, perseroan melepas 266 juta saham atau setara 21,01% modal, mengantongi dana segar Rp239,4 miliar. Namun, kilau dana besar itu tak mampu menutupi sederet masalah fundamental yang terpampang jelas dalam prospektus. Pendapatan JELI tercatat menurun tiga tahun beruntun, dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp753,05 miliar pada 2025. Lonjakan laba bersih 235,5% menjadi Rp39 miliar di 2025 lebih disebabkan oleh efisiensi dan perbaikan marjin, bukan pertumbuhan penjualan organik—sebuah sumber pertumbuhan yang terbatas.
Yang lebih mengkhawatirkan, arus kas dari aktivitas operasi JELI ambruk sekitar 83% pada 2025 akibat melonjaknya piutang usaha dari Rp104,21 miliar menjadi Rp174,13 miliar. Penjualan kredit menjelang akhir tahun memang bisa mempercantik laba di atas kertas, tetapi belum tentu berubah menjadi kas yang benar-benar masuk ke perusahaan. Risiko gagal bayar dari distributor pun mengintai. Dengan valuasi price-to-earnings ratio (PER) di kisaran 31-39 kali—jauh di atas rata-rata emiten makanan-minuman yang hanya 12-18 kali—harga saham JELI saat ini sulit dijustifikasi oleh kinerja riil. Apalagi, sejak berdiri pada 1990, perseroan belum pernah membagikan dividen, meski manajemen berjanji akan mengalokasikan maksimal 30% laba bersih untuk dividen ke depan.
Sementara itu, BACH yang merupakan emiten genset dan infrastruktur telekomunikasi afiliasi Grup Djarum, juga tak luput dari aksi jual. Sahamnya melantai pada 8 Juli 2026 dengan harga final Rp442 per saham, melepas 615 juta saham atau 15,06% modal—free float yang tergolong tipis. Data ringkasan broker menunjukkan satu broker tercatat sebagai net seller senilai sekitar Rp117,4 miliar di BACH, angka terbesar di antara emiten IPO gelombang ini. Pola ini kerap menjadi sinyal awal fase distribusi besar-besaran yang mendahului tekanan harga lebih lanjut.
Dari sisi fundamental, likuiditas BACH menjadi sorotan utama. Rasio kas (cash ratio) perseroan pada 2025 hanya 0,02 kali atau sekitar 2%, anjlok dari 0,09 kali pada tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan ruang gerak yang sangat sempit untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, terutama karena sebagian dana IPO justru dialokasikan untuk modal kerja pembelian genset. Selain itu, BACH sangat bergantung pada pihak terafiliasi dalam ekosistem Grup Djarum, seperti TOWR, Protelindo, dan SUPR, yang membuat kinerja perseroan lebih dipengaruhi keputusan internal grup ketimbang dinamika pasar murni.
Risiko lain datang dari rantai pasok yang bergantung pada prinsipal luar negeri seperti Himoinsa dan Guangdong Westinpower, membuat BACH rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan gangguan pasokan global. Tak hanya itu, prospektus mengungkap adanya perjanjian opsi antara pemegang saham di mana PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) berencana mengeksekusi hak opsi pembelian saham sehingga kepemilikannya naik menjadi 51% dalam waktu lima hari kerja setelah pencatatan. Perubahan struktur pengendalian yang cepat ini menambah ketidakpastian bagi investor jangka menengah. Dengan free float yang hanya 15,06%, volatilitas harga BACH diperkirakan akan terus tinggi.
Kejatuhan dua saham IPO ini menjadi pengingat bahwa euforia pasar perdana tak selamanya berbanding lurus dengan kualitas fundamental. Investor ritel maupun institusi kini dituntut lebih cermat dalam membaca prospektus, bukan sekadar tergiur oleh lonjakan harga di hari pertama. Pertanyaan besarnya, akankah pola ini membuat BEI dan otoritas terkait semakin memperketat pengawasan terhadap emiten yang akan melantai, atau justru membiarkan mekanisme pasar berjalan seperti biasa?



