Topan Bavi Hantam Jepang dan Taiwan, China Siaga Banjir Besar
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi menerjang Okinawa dengan kecepatan angin hingga 216 km/jam, memicu peringatan longsor dan banjir di Jepang.
- Taiwan mengevakuasi lebih dari 14.000 warga dan membatalkan hampir 1.200 penerbangan sebagai antisipasi curah hujan ekstrem.
- China utara bersiap menghadapi hujan deras, dengan evakuasi massal di Beijing dan penurunan level waduk untuk pengendalian banjir.

Topan Bavi, badai tropis terkuat yang melanda kawasan Asia Timur dalam beberapa tahun terakhir, mulai menunjukkan dampaknya pada Sabtu (11/7) dengan menerjang Prefektur Okinawa, Jepang selatan, dan memaksa pemerintah setempat mengeluarkan peringatan dini terhadap tanah longsor serta banjir di wilayah pesisir.
Badan Meteorologi Jepang melaporkan bahwa Topan Bavi membawa angin kencang yang berpotensi merusak bangunan, disertai gelombang tinggi dan ancaman banjir di daerah rendah dekat pantai dan sungai. Hingga pukul 06.00 waktu setempat, pusat topan berada di sekitar timur-tenggara Pulau Miyako, bergerak dengan kecepatan 20 km/jam dan kecepatan angin maksimum mencapai 216 km/jam. Meskipun diprediksi akan melewati Kepulauan Sakishima yang terpencil dan menjauhi daratan utama Jepang, otoritas tetap mengimbau kewaspadaan.
Sementara itu, Taiwan mengambil langkah luar biasa dengan mengevakuasi lebih dari 14.000 jiwa, terutama dari kawasan pegunungan di utara dan timur. Meskipun Bavi tidak diperkirakan mendarat di pulau tersebut, pemerintah memilih untuk menutup aktivitas publik secara besar-besaran. Sebanyak 917 penerbangan internasional dan seluruh 274 penerbangan domestik dibatalkan. Hampir seluruh kota dan kabupaten di Taiwan menetapkan hari libur topan pada 11 Juli, menutup kantor dan sekolah yang mungkin buka di akhir pekan. Jalur kereta cepat utara-selatan tetap beroperasi dengan layanan terbatas. Di ibu kota Taipei, angin kencang dan hujan mengguyur, namun beberapa warga masih terlihat beraktivitas di luar. โTidak terlalu parah, hanya angin sedikit lebih kencang,โ ujar Yeh Mao-hsiung (68), warga Taipei yang sedang jalan pagi bersama anjingnya.
Di China utara, dampak Topan Bavi mulai terasa sejak Jumat (10/7) dengan hujan deras yang diperkirakan berlanjut hingga akhir pekan. Badai ini diprediksi mendarat di sekitar Kota Wenzhou, China timur, pada Sabtu malam atau Minggu dini hari. Pemerintah setempat telah mengevakuasi hampir 100.000 warga Beijing, menutup taman-taman, tempat wisata, dan menurunkan permukaan air di Waduk Miyun dari 135 meter kubik per detik menjadi 205 meter kubik per detik untuk meningkatkan kapasitas pengendalian banjir. Provinsi Hebei, Shaanxi, Liaoning, dan Daerah Otonom Mongolia Dalam juga bersiaga. Kota Fushun di timur laut China memerintahkan lembaga bimbingan belajar tutup pada 11 Juli.
Bagi Indonesia, meskipun tidak terdampak langsung, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan potensi siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia yang dapat memicu gelombang tinggi dan hujan lebat. Pengalaman negara tetangga dalam manajemen evakuasi dan mitigasi bencana dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang juga rawan bencana hidrometeorologi.
Ke depan, intensitas Topan Bavi diperkirakan akan melemah saat mencapai daratan China, namun ancaman banjir dan longsor masih tinggi. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur pengendali banjir di kawasan Asia Timur mampu menghadapi badai yang semakin kuat akibat pemanasan global?



