Binance Gencar Buru Lisensi di Asia, Targetkan 3 Miliar Pengguna pada 2030
Baca dalam 60 detik
- Binance akan mengumumkan sejumlah persetujuan regulasi dan kemitraan baru di Asia sepanjang tahun ini, memperkuat ekspansi di kawasan dengan adopsi kripto tinggi.
- Co-CEO Richard Teng menegaskan komitmen di Uni Eropa meski menarik aplikasi lisensi MiCA di Yunani, menyebut keterlambatan proses sebagai penyebabnya.
- Perusahaan mengalokasikan lebih dari US$300 juta per tahun untuk kepatuhan dan menargetkan pertumbuhan basis pengguna dari 323 juta menjadi 3 miliar pada 2030.

Binance, bursa kripto terbesar di dunia, tengah mempercepat perburuan lisensi di Asia seiring meningkatnya adopsi aset digital di kawasan itu. Co-CEO Richard Teng mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengumumkan beberapa persetujuan regulasi dan kemitraan baru di Asia pada tahun ini, memperkuat jejak yang sudah ada di Jepang dan India.
Berbicara di sela-sela konferensi Reuters NEXT Asia di Singapura, Teng menyebut Asia Pasifik sebagai pasar yang sangat potensial. "Kami tetap sangat bullish terhadap Asia Pasifik," ujarnya, seraya menunjuk pada antusiasme yang terus tumbuh terhadap aset digital di wilayah tersebut. Ekspansi terbaru Binance dilakukan ke Filipina melalui kerja sama dengan perusahaan fintech BlockShoals Technologies.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi global Binance yang juga mencakup komitmen untuk tetap beroperasi di Uni Eropa, meskipun baru-baru ini menarik aplikasi lisensi Markets in Crypto-Assets Regulation (MiCA) di Yunani. Teng menjelaskan bahwa penarikan itu bukan karena perubahan strategi, melainkan akibat keterlambatan proses persetujuan. "Kami selalu diberi kesan bahwa aplikasi kami sepenuhnya sesuai. Namun kemudian terjadi penundaan. Kami tidak bisa menunda lebih lama lagi karena ada tenggat waktu, dan kami harus bertanggung jawab kepada pengguna di UE," kata Teng.
Teng, yang sebelumnya menjabat direktur keuangan perusahaan di Otoritas Moneter Singapura, menekankan pentingnya kejelasan regulasi dan partisipasi institusional untuk mendorong adopsi blockchain. Menurutnya, blockchain akan menjadi masa depan layanan keuangan. "Anda membutuhkan berbagai tipe investor dengan profil risiko, horizon, dan durasi yang berbeda agar pasar menjadi lebih sehat," jelasnya. Ia juga melihat tren tokenisasi aset keuangan tradisional akan semakin masif dalam beberapa tahun mendatang.
Di tengah ekspansi, Binance juga berupaya memperbaiki citra kepatuhannya setelah berbagai pelanggaran regulasi di masa lalu. Teng mengklaim bahwa perusahaan telah berinvestasi besar-besaran dalam memperkuat tata kelola. "Kami percaya pada perlindungan pelanggan. Kami melampaui apa yang diwajibkan banyak regulator," tegasnya. Binance menerbitkan bukti cadangan untuk menunjukkan bahwa aset pelanggan terbackup penuh, serta memelihara Secure Asset Fund for Users (SAFU) untuk kompensasi jika terjadi pelanggaran keamanan.
Bagi Indonesia, langkah Binance ini menjadi sinyal positif bagi ekosistem kripto domestik yang terus berkembang. Meskipun regulasi aset kripto di Indonesia masih dalam tahap penyempurnaan, kehadiran pemain global seperti Binance dapat mendorong adopsi dan mendorong regulator untuk mempercepat penyusunan kerangka hukum yang jelas. Namun, investor Indonesia tetap perlu waspada terhadap volatilitas dan risiko keamanan yang melekat pada aset digital.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Binance mampu mencapai target ambisius 3 miliar pengguna pada 2030 di tengah persaingan ketat dan tekanan regulasi global. Dengan investasi besar pada kepatuhan dan ekspansi agresif di Asia, bursa kripto ini tampaknya siap bertaruh pada masa depan blockchain.



